Warga China Berbondong-bondong Mudik untuk Merayakan Imlek

Di dalam sebuah kereta yang penuh dan sarat akan bingkisan berwarna merah tua yang dibawa untuk para kerabat tercinta, pekerja di bidang IT, Sun Jintao, pergi meninggalkan Beijing untuk merayakan libur Imlek bersama keluarganya untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Ratusan juta orang berangkat dari kota-kota besar di China pada minggu ini dalam tradisi migrasi tahunan terbesar di dunia. Para warga kembali ke kampung halamannya masing-masing untuk dapat makan bersama keluarga mereka di rumah, memberi penghormatan kepada para orang tua dan memohon berkat untuk Tahun Naga mendatang.

Kantor berita resmi China, Xinhua, mengatakan sekitar sembilan miliar perjalanan akan berlangsung di China selama libur festival musim semi tahun ini.

“Saya belum pulang untuk merayakan Imlek dalam tiga tahun terakhir,” kata Sun, 28, penduduk Beijing, kepada kantor berita AFP.

Tahun-tahun sebelumnya dibayangi oleh pandemi COVID-19, ujarnya, dan pembatasan terkait COVID yang ketat menjadikan perjalanan mudik ke kampung halaman sulit.

“Perjalanannya sedikit merepotkan,” jelas Sun yang hendak pergi ke Handan, tujuan akhir kereta yang ia naiki. Handan terletak di provinsi Hebei.

“Dan tahun lalu saya pergi ke rumah pasangan saya,” katanya. “Tahun ini saya harus pulang, betapapun sulitnya.”

Sejumlah penumpang yang kehabisan tiket tampak duduk di antara koper-koper besar dalam perjalanan tersebut. Tiket perjalanan di seluruh negara habis dengan cepat begitu dijual.

Bagi kebanyakan orang, libur Imlek adalah kesempatan langka untuk berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan, sebuah waktu beristirahat dari tekanan kehidupan di perkotaan.

Dong Hang, 18, yang berasal dari Handan, mengatakan kepada AFP bahwa ia harus pindah ke ibu kota untuk mendapatkan gaji yang lebih besar.

Ia bercerita bahwa dirinya bekerja dari jam empat sore hingga jam empat pagi selama enam hari di sebuah restoran barbeku.

“Beijing dianggap sebagai kota level teratas, sedangkan kampung halaman kami berada di level ketiga atau keempat di mana gaji bulanannya cukup kecil,” ujarnya sambil menghabiskan rokok yang ia hisap di area antar gerbong.

Namun minggu ini ia mengambil waktu libur yang telah ia dambakan.

“Ada kataa pepatah tua di China yang berbunyi: ‘Baik kaya maupun miskin, kita harus pulang ke rumah untuk merayakan Tahun Baru,’” ujarnya. “Sangat menyenangkan bisa membuat pangsit bersama dan makan malam dengan keluarga besar.” [jm/ka/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com