Ulama Desak Iran Jelaskan Penyebab Kematian Pelajar dalam Tahanan Tentara

Dalam khotbah salat Jumatnya, Molavi Abdol Hamid, seorang pemimpin spiritual bagi Muslim Sunni Iran, mendesak lembaga-lembaga pemerintah untuk mengungkapkan perincian seputar kematian Sepehr Shirani dalam tahanan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Zahedan.

Shirani, seorang pelajar berusia 19 tahun, ditemukan tewas beberapa hari setelah ditangkap oleh pasukan intelijen IRGC, yang memberi tahu keluarganya tentang kematiannya pada Kamis (1/2).

Media berita Hal-Vash, yang berfokus pada pemberitaan dari Provinsi Sistan dan Baluchestan, mengutip pernyataan Molavi Abdol Hamid, “Pihak berwenang terkait harus memastikan transparansi dan mengklarifikasi kepada publik tentang keadaan seputar kematian Sepehr Shirani.”

Shirani meninggalkan rumahnya sekitar pukul 16.00 pada Selasa (30/1), dan teleponnya kemudian dimatikan, menurut laporan media. Keluarganya mencarinya dan mengonfirmasi penahanannya oleh pasukan intelijen IRGC. Hal-Vash melaporkan mereka diberitahu bahwa dia akan diinterogasi tentang aktivitas daringnya dan dibebaskan.

Menurut informasi yang dipublikasikan, Shirani telah menerima peringatan dari pasukan keamanan mengenai aktivitas daringnya, keterlibatan dalam administrasi Masjid Maki, dan dukungan atas protes pada Jumat (2/2) di Zahedan.

Hal-Vash melaporkan pada Kamis (1/2) bahwa Shirani, yang ditahan di Zahedan karena “aktivitas daring telah kehilangan nyawanya karena penyiksaan.” Kampanye Aktivis Baloch, sebuah lembaga pemantau hak asasi manusia di Provinsi Sistan dan Baluchestan, mengutip sumbernya, melaporkan penyebab kematian yang sama.

IRGC memberitahu keluarganya tentang kematiannya pada Kamis (1/2), menurut Iran Focus. Keluarganya mengikuti prosedur untuk menerima jenazahnya dari IRGC, katanya.

Amnesty International menuduh intelijen dan pasukan keamanan Republik Islam menyiksa mereka yang ditangkap selama dan setelah protes nasional pada 2022-2023. [ft]

Sumber: www.voaindonesia.com