Suriah, Irak, dan Sekutunya Kecam Serangan Balasan AS 

Setelah menyerang 85 sasaran pada hari Jumat (2/2), Amerika dan Inggris kembali menyerang 36 sasaran kelompok Houthi di Yaman pada hari Sabtu (3/2). Ini merupakan gelombang serangan untuk melumpuhkan kelompok-kelompok yang didukung Iran, yang telah tanpa henti menyerang kepentingan Amerika dan internasional di tengah berkecamuknya perang Israel-Hamas, dan sekaligus pembalasan atas serangan drone yang menewaskan tiga tentara Amerika di Yordania akhir pekan lalu.

Serangan terbaru terhadap Houthi dilancarkan oleh kapal perang Amerika, dan jet-jet tempur Amerika dan Inggris. Beberapa pejabat Amerika dan Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan target-target Houthi berada di 13 lokasi yang berbeda dan diserang oleh jet-jet tempur F/A-18 AS dari kapal induk USS Dwight D. Eisenhower, pesawat tempur Inggris Typhoon FGR4 dan kapal perusak Angkatan Laut AS USS Gravely dan USS Carney yang menembakkan rudal Tomahawk dari Laut Merah.

Kementerian Pertahanan Inggris pada hari Sabtu juga merilis rekaman yang menunjukkan pesawat-pesawatnya sedang dipersiapkan dan kemudian lepas landas dari sebuah pangkalan udara untuk melakukan serangan-serangan itu.

Amerika memperingatkan bahwa tanggapannya setelah kematian para tentara di pangkalan Tower 22 di Yordania pada hari Minggu lalu tidak akan terbatas pada satu malam, satu target atau satu kelompok.

Serangan Balasan AS Dikecam Luas

Serangan balasan militer Amerika itu memicu kecaman dari pemerintah Suriah dan Irak, serta beberapa negara lain yang bersekutu dengan keduanya. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Al Miqdad mengatakan serangan Amerika “akan meningkatkan secara serius ketegangan di kawasan itu.

Stasiun televisi Suriah mengutip pejabat-pejabat pertahanan negara itu yang mengklaim “Amerika menyerang pasukan pemerintah Suriah yang sedang memerangi kelompok teroris ISIS,” dan menuduh AS mencoba membantu kelompok teroris itu berkumpul dan bangkit lagi.

Rami Abdul Rahman di Kelompok Pemantau HAM Suriah yang berkantor di Inggris, mengatakan kepada media Arab bahwa serangan Amerika itu menarget milisi pro-Iran dan pasukan pemerintah Suriah di perbatasan dengan Irak – tepatnya di antara Al Bukamal dan Deir El Zour – serta pos perbatasan al Qaim.

Rami mengatakan Pasukan Al Quds Iran, Pasukan Garda Revolusioner Iran dan pasukan milisi pro-Iran telah terkena serangan-serangan Amerika itu, meskipun para milisi telah diberitahu akan potensi terjadinya serangan itu dan sebagian besar telah bersembunyi di terowongan-terowongan bawah tanah.

Irak: Serangan AS Tempatkan Irak di Tepi Kehancuran

Perdana Menteri Irak Mohammed Shia Al-Sudani menyatakan masa berkabung resmi bagi korban serangan Amerika di markas milisi Hashd Al Shaabi yang pro-Iran, yang terletak di al Qaim dan kota Al Kashat. Juru bicara pemerintah Irak Bassem al Awadi mengatakan sedikitnya 18 orang tewas dalam serangan Amerika itu.

Awadi dengan tegas menyangkal laporan bahwa Amerika telah berkonsultasi dengan pemerintah Irak sebelum serangan itu. Bassem mengklaim “Amerika berupaya menyesatkan opini dunia.” Ia menambahkan bahwa “serangan Amerika itu menempatkan Irak di tepi kehancuran.”

Parlemen Irak melangsungkan sidang darurat akhir pekan ini untuk membahas “dampak serangan Amerika,” dan “kehadiran pasukan asing di wilayah Irak.” Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan akan memanggil Kuasa Usaha Amerika Serikat, David Baker, untuk menyampaikan keprihatinannya.

Sebuah bangunan hancur pasca serangan udara AS di al-Qaim, Irak Sabtu (3/2).

Iran: Serangan AS adalah Kesalahan Strategis yang Serius

Iran, yang mendukung pasukan milisi yang ditargetkan oleh Amerika, menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah dan Irak, serta integritas teritorial mereka.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menyebut serangan AS sebagai “kesalahan strategis yang serius.”

Amerika menuding The Islamic Resistance in Iraq atau Perlawanan Islam di Irak, sebuah koalisi milisi yang didukung oleh Iran, sebagai pihak yang melakukan serangan terhadap instalasi militer Amerika di Yordania yang menewaskan tiga tentara dan melukai puluhan lainnya.

Iran telah berupaya menjaga jarak dari serangan itu, dengan mengatakan kelompok milisi itu bertindak secara independen, bukan atas perintah Iran.

Sementara itu, Rusia, yang merupakan sekutu dekat Suriah dan Iran, menuduh Amerika “menabur kekacauan dan kehancuran di Timur Tengah.”

Khawatir Diserang AS, Khamenei Utus Ka’ani ke Baghdad

Analis Iran yang berbasis di London, Ali Nourizadeh, mengatakan kepada VOA, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei sangat prihatin akan kemungkinan serangan Amerika terhadap wilayah Iran. Beberapa hari lalu ia mengirim komandan Pasukan Quds, Ismail Ka’ani, ke Baghdad untuk memperingatkan mereka “agar tidak membunuh orang Amerika sehingga memprovokasi serangan balasan.”

“Khamenei memperingatkan untuk tidak membunuh warga Amerika. Serangan seharusnya terbatas untuk menunjukkan bahwa kita mengambil tindakan dan kita melakukan sesuatu, tetapi jangan membunuh warga Amerika karena itu tidak akan ditolerir Amerika.”

Senator Jack Reed, yang mengetuai Komisi Angkatan Bersenjata Senat, melontarkan kata-kata kasar kepada Iran, dengan mengatakan “pasukan proksi Iran di Suriah dan Irak telah mengalami pukulan yang signifikan, dan milisi-milisi yang terkait dengan Iran di seluruh Timur Tengah harus memahami bahwa mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban.”

Balas Serangan Israel di Gaza, Houthi Serang Kapal-kapal di Laut Merah

Kelompok Houthi telah menyerang kapal-kapal komersial dan militer yang transit di Laut Merah dan Teluk Aden dengan rudal dan pesawat nirawak sejak Israel meningkatkan serangan darat dan udara terhadap kelompok Hamas di Jalur Gaza. Houthi telah menegaskan bahwa mereka tidak berniat mengurangi serangan mereka meskipun ada tekanan dari Amerika dan Inggris.

Serangan kelompok Houthi telah membuat perusahaan-perusahaan pelayaran dunia mengalihkan rute kapal mereka dari Laut Merah, membuat kapal-kapal itu harus mengelilingi Afrika melalui Tanjung Harapan. Perjalanan kapal-kapal itu menjadi jauh lebih lama, lebih mahal, dan kurang efisien. Dalam situasi normal ada sekitar 400 kapal komersial yang melintasi Laut Merah bagian selatan pada waktu tertentu.

Ancaman ini telah mendorong AS dan sekutunya untuk membentuk misi gabungan di mana kapal-kapal perang dari negara-negara yang berpartisipasi memberikan payung pertahanan udara untuk melindungi kapal-kapal ketika mereka melakukan perjalanan melalui jalur perairan penting itu yang membentang dari Terusan Suez hingga Selat Bab el-Mandeb.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin

Menteri Pertahanan Amerika Lloyd Austin mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan militer – dengan dukungan dari Australia, Bahrain, Kanada, Denmark, Belanda, dan Selandia Baru – telah “mengirimkan pesan yang jelas kepada Houthi bahwa mereka akan terus menanggung konsekuensi lebih lanjut jika tidak menghentikan serangan ilegal terhadap pelayaran internasional dan kapal-kapal Angkatan Laut yang melintas.”

Ditambahkannya, “Kami tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan demi mempertahankan nyawa dan arus perdagangan yang bebas di salah satu jalur perairan yang paling penting di dunia.”

Departemen Pertahanan mengatakan serangan yang dilakukan itu menarget fasilitas penyimpanan senjata, sistem rudal dan peluncur Houthi yang terkubur dalam, sistem pertahanan udara, radar, dan helikopter. Sedangkan militer Inggris mengatakan mereka menyerang sebuah stasiun kontrol darat di sebelah barat ibukota Yaman, Sanaa, yang telah digunakan untuk mengendalikan drone-drone Houthi yang menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan Presiden AS Joe Biden telah diberi pengarahan mengenai serangan tersebut sebelum ia meninggalkan Delaware pada hari Sabtu untuk melakukan perjalanan kampanye di Pantai Barat.

Serangan-serangan terbaru ini menandai ketiga kalinya Amerika dan Inggris melakukan operasi gabungan besar-besaran untuk menyerang peluncur senjata, situs radar, dan drone-drone milik Houthi.

Upaya Pembebasan Sandera & Gencatan Senjata Jalan Terus

Di Kairo, para pemimpin politik kelompok Hamas Palestina, yang menguasai Gaza, telah bertemu dengan Kepala Intelijen Mesir Jenderal Abbas Kamel untuk mendiskusikan pertukaran tawanan dan gencatan senjata dengan Israel guna menghentikan konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan ini.

Sumber-sumber pemerintah Mesir bungkam mengenai pembicaraan tersebut, namun media Arab mengklaim Israel telah menyetujui gencatan senjata selama enam bulan dan bahwa Hamas siap untuk menukar lebih dari seratus tawanan Israel dengan sekitar 300 tawanan Palestina. VOA belum dapat mengkonfirmasi laporan tersebut secara independen. [em/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com