Situasi di Timur Tengah Saat Ini Berbahaya

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin mengatakan pada Kamis (1/2) bahwa saat ini adalah momen penuh bahaya di Timur Tengah. Namun, AS akan berupaya menghindari konflik yang lebih luas.

Austin menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons berjenjang terhadap serangan mematikan di Yordania yang menewaskan tentara AS.

“Beberapa hari terakhir merupakan hari-hari yang sulit bagi Departemen Pertahanan. Seluruh departemen bersatu merasakan kemarahan dan kesedihan kami atas kematian tiga anggota militer AS pada hari Minggu (28/1) di Yordania. Kami semua berduka atas tewasnya tiga tentara cadangan Angkatan Darat yang bertugas di Tower 22,” kata Austin.

Washington menyalahkan serangan tersebut – yang merupakan serangan pertama yang menewaskan pasukan AS di Timur Tengah sejak dimulainya perang Israel-Hamas pada Oktober lalu – kepada kelompok militan yang didukung Iran. Namun mereka tidak menyatakan secara terbuka dari mana sebenarnya senjata yang membunuh tentara Amerika Serikat itu berasal, bahkan ketika mereka menyebut Iran merupakan penanggung jawab utama pendanaan, dan bahkan dalam beberapa kasus melatih para militan yang melakukan penyerangan itu.

Pasukan AS telah diserang lebih dari 160 kali di Irak, Suriah dan Yordania, sejak peristiwa 7 Oktober yang memicu perang di Gaza. Sejumlah kapal perang juga diserang di Laut Merah. Pejuang Houthi di Yaman telah menembakkan drone dan rudal ke arah pasukan AS di Laut Merah, sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Di tengah ekspektasi akan terjadinya serangan berhari-hari, Austin menyarankan bahwa pemerintah akan merespons secara berjenjang untuk mengatasi ancaman kelompok yang didukung Iran terhadap pasukan AS. [ns/rd]

Sumber: www.voaindonesia.com