Serangan Yaman ‘Bertentangan’ dengan Kebijakan AS dan Inggris

Iran pada Minggu (4/2) mengecam serangan Amerika Serikat (AS) dan Inggris terhadap sasaran di Yaman. Teheran mengatakan bahwa serangan tersebut “bertentangan” dengan niat mereka untuk menghindari konflik Timur Tengah yang lebih luas.

Serangan-serangan ini “jelas bertentangan dengan klaim berulang-ulang Washington dan London bahwa mereka tidak menginginkan perluasan perang dan konflik di kawasan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, dalam sebuah pernyataan.

Dia menuduh AS dan Inggris justru “memperparah kekacauan, ketidakamanan dan ketidakstabilan” dengan mendukung Israel dalam perang melawan militan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan lebih lanjut terhadap pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman merupakan respons terhadap serangan kelompok tersebut terhadap pelayaran internasional di Laut Merah merupakan “ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional”, kata Kanani.

Pada Sabtu (3/2), AS dan Inggris menyerang puluhan sasaran di Yaman terkait dengan serangan Houthi di Laut Merah. Pemberontak mengatakan serangan itu merupakan bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza yang dilanda perang.

Sehari sebelumnya, militer AS menyerang sasaran di Suriah dan Irak, sebagai pembalasan atas serangan pesawat tak berawak pada 28 Januari di sebuah pangkalan di Yordania yang menewaskan tiga tentara AS.

Presiden Joe Biden menyalahkan “kelompok militan radikal yang didukung Iran” atas serangan itu. Namun ia mengatakan AS tidak menginginkan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

“Saya rasa kita tidak memerlukan perang yang lebih luas di Timur Tengah. Bukan itu yang saya cari,” kata Biden pada Selasa. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com