Serangan Udara di Myanmar Tewaskan 17 Orang, Militer Bantah Bertanggung Jawab 

Serangan udara militer Myanmar di sebuah desa yang dikendalikan pihak prodemokrasi yang menentang militer di barat laut negara itu telah menewaskan sedikitnya 17 warga sipil, termasuk sembilan anak, kata penduduk setempat dan kelompok hak asasi manusia pada Minggu (7/1).

Mereka mengatakan serangan udara pada pagi hari di Desa Kanan, Kota Khampat di wilayah Sagaing, tepat di selatan perbatasan India itu, juga melukai sekitar 20 orang.

Myanmar dilanda kekerasan yang dimulai setelah tentara menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Setelah demonstrasi damai dipadamkan dengan kekerasan mematikan, banyak penentang kekuasaan militer mengangkat senjata, dan sebagian besar negara itu kini dilanda konflik.

Media online independen negara itu dan layanan BBC berbahasa Myanmar melaporkan serangan udara tersebut pada Minggu (7/1), tetapi pemerintah militer menolak bertanggung jawab. Pemerintah mengklaim bahwa berita itu palsu yang disebarkan oleh Khit Thit Media, sebuah layanan berita online independen yang bersimpati pada perlawanan anti-militer.

Laporan televisi MRTV milik pemerintah dalam siaran berita Minggu (7/1) malam mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya dari daerah tersebut yang mengatakan tidak ada pesawat yang terbang di daerah tersebut pada Minggu pagi.

Pemerintahan militer dalam dua tahun terakhir telah meningkatkan serangan udara terhadap dua musuh: Pasukan Pertahanan Rakyat pro-demokrasi bersenjata, dan kelompok gerilya etnis minoritas yang memperjuangkan otonomi yang lebih besar selama beberapa dekade. Kedua kelompok itu terkadang melakukan operasi gabungan melawan tentara.

Menanggapi tuduhan melakukan serangkaian pelanggaran, pemerintah militer sering menuduh kekuatan pro-demokrasi di wilayah tersebut melakukan kampanye teror dengan kekerasan. Namun para analis di PBB dan organisasi non-pemerintah telah mengumpulkan bukti kredibel mengenai pelanggaran hak asasi manusia berskala besar yang dilakukan oleh tentara, termasuk pembakaran seluruh desa dan pengungsian hampir 2 juta orang yang telah memicu krisis kemanusiaan.

Pasukan Tentara Pembebasan Rakyat sedang bertempur melawan tentara junta militer Myanmar di Wilayah Sagaing, 23 November 2023. (Foto: Stringer/Reuters)

Wilayah Sagaing, dekat perbatasan India, selama ini menjadi benteng perlawanan bersenjata terhadap tentara. Sebuah ibu kota distrik dan dua kota kecil, termasuk Khampat, dalam beberapa bulan terakhir telah direbut oleh koalisi pasukan perlawanan dan Tentara Kemerdekaan Kachin, salah satu kelompok pemberontak etnis yang lebih kuat.

Seorang warga setempat yang membantu melakukan upaya penyelamatan kepada kantor berita Associated Press pada Minggu mengatakan bahwa sebuah jet tempur menjatuhkan tiga bom di desa Kanan, di pinggiran Khampat, sekitar 280 kilometer barat laut Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu. Pengeboman itu menewaskan 17 warga sipil yang berada di bangunan-bangunan dekat sekolah desa itu.

Penduduk di kota Khampat sebagian besar berasal dari etnis minoritas Chin yang mayoritas beragama Kristen, umumnya Baptis. Myanmar sebagian besar beragama Buddha, yang menjad mayoritas di Burma. Militer yang berkuasa mengidentifikasi diri beraliran Buddha nasionalis menunjukkan sikap bermusuhan terhadap populasi non-Burma dan non-Buddha. Populasi tersebut sebagian besar ditemukan di wilayah perbatasan di mana sebagian besar pertempuran saat ini terjadi.

Sekitar 10 rumah di dekat sekolah itu hancur akibat bom, kata warga yang enggan disebutkan namanya karena takut ditangkap militer.

Ia memberikan penjelasan mengenai kemungkinan serangan tersebut, dengan menyatakan bahwa sebuah upacara dijadwalkan pada Minggu untuk menandai selesainya pelatihan tempur bagi anggota baru pasukan-pasukan perlawanan di sekolah lain di desa tersebut. Acara tersebut mungkin menjadi sasaran serangan itu. Ia menambahkan bahwa pemboman itu mungkin akibat informasi yang diberikan oleh seorang informan militer.

Warga lain, yang juga enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan sembilan orang yang tewas adalah anak-anak dan 20 orang lainnya luka-luka. Ia juga memberi kepada kantor berita AP foto-foto setelah serangan itu, termasuk orang-orang yang tewas dan terluka serta sejumlah bangunan yang rusak.

Salai Mang Hre Lian, manajer program Organisasi Hak Asasi Manusia Chin, juga membenarkan jumlah korban dan menuduh bahwa ini adalah serangan yang disengaja oleh militer terhadap warga sipil dan anak-anak di sekolah tersebut. [my/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com