Selandia Baru Pertimbangkan Berbagi Teknologi Militer dengan AS dan Inggris

Selandia Baru, Kamis (2/1) mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan untuk berbagi teknologi militer canggih dengan Amerika Serikat dan Inggris, sementara negara tersebut saat ini juga sedang mengupayakan hubungan pertahanan yang lebih erat dengan Australia di tengah kekhawatiran atas semakin agresifnya China.

Menteri-menteri pertahanan dan luar negeri Australia dan Selandia Baru bertemu di Melbourne untuk membahas peningkatan hubungan keamanan antara negara-negara tetangga itu. Ini adalah pertemuan gabungan pertama mereka sejak pemerintahan koalisi sayap kanan Selandia Baru mulai menjabat tahun lalu.

Australia mengumumkan akan mengirim pejabat ke Selandia Baru tahun ini untuk membahas kemitraan pertahanan tiga arah antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

China, Amerika Serikat, dan negara-negara lain sedang berebut pengaruh di kawasan Pasifik yang penting dan strategis.

AS dan Inggris telah sepakat untuk memberi Australia armada kapal selam yang ditenagai oleh teknologi nuklir AS.

Selandia Baru telah melarang kapal bertenaga nuklir menggunakan pelabuhannya sejak tahun 1984. Namun, Selandia Baru sedang mempertimbangkan apakah akan terlibat dalam komitmen antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat untuk mengembangkan dan berbagi kemampuan militer tingkat lanjut, termasuk kecerdasan buatan, senjata elektromagnetik, dan teknologi hipersonik.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyatakan keprihatinannya atas tuduhan bahwa beberapa pegawai badan bantuan utama PBB di Jalur Gaza yang dilanda perang ikut serta dalam serangan mematikan Hamas terhadap Israel empat bulan lalu.

Namun dia mengisyaratkan kemungkinan dimulainya kembali pendanaan badan tersebut dari Australia jika “tidak ada alternatif lain”.

Setidaknya 10 negara, termasuk Australia, telah menangguhkan pendanaan untuk Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, yang dikenal sebagai UNRWA, terkait tuduhan tersebut. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com