Regulator AS akan Investigasi Insiden Pesawat Boeing 737 MAX Saat Terbang

Ketua Dewan Keamanan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB), Jennifer Homendy, menyampaikan kepada wartawan pada Minggu (7/1), “sungguh beruntung” bahwa insiden yang dialami pesawat Alaska Airlines tidak “berakhir menjadi sesuatu yang lebih tragis”, dan pihaknya akan melakukan inspeksi tanpa kecuali.

“Apakah kami akan meninjau proses produksi pesawat milik Boeing ini? Pada tahap penyelidikan ini, semuanya akan (kami) periksa. Kami akan melakukannya secara menyeluruh. Tidak ada pengecualian. Sejalan dengan pengumpulan informasi dan bukti-bukti, kami akan melakukan inspeksi secara menyeluruh dan mendalami penyelidikan pada aspek-aspek tertentu,” papar Homendy.

Pihak otoritas penerbangan Amerika Serikat (FAA), pada Sabtu lalu (6/1) juga telah melarang terbang sementara sejumlah pesawat Boeing 737 MAX 9 untuk dilakukan pemeriksaan keamanan lebih lanjut. Inspeksi tersebut akan memakan waktu sekitar empat hingga delapan jam per pesawat dan akan berdampak pada sekitar 171 pesawat di seluruh dunia.

Sementara itu, dalam pernyataan tertulis yang diunggah di laman media sosial X pada Minggu (7/1), pihak Boeing menyatakan penyesalan mereka atas insiden tersebut dan akan mendukung keputusan FAA dan NTSB yang mewajibkan inspeksi dan investigasi segera terhadap pesawat Boeing 737 MAX 9.

Pada Jumat (5/1) malam, salah satu panel badan pesawat Alaska Airlines Boeing 737 MAX 9 terlepas tujuh menit setelah lepas landas dari Portland, Oregon, dalam perjalananannya menuju Ontario, California. Hilangnya tekanan kabin yang cepat membuat pakaian seorang anak terlepas dan menyebabkan masker oksigen darurat dikeluarkan dari langit-langit kabin. Tidak ada satu pun dari 171 penumpang dan enam kru pesawat yang terluka parah, dan pilot berhasil melakukan pendaratan darurat dengan aman.

Salah satu panel badan pesawat Alaska Airlines Boeing 737 MAX 9 terlepas tujuh menit setelah lepas landas dari bandara Portland, Sabtu (6/1).

Elizabeth Le, salah seorang penumpang, mengungkapkan apa yang dialaminya dalam pesawat tersebut.

“Kami mendengar suara seperti ledakan keras atau dentuman. Saat saya melihat ke atas, dan masker udara (darurat) keluar. Saya melihat ke sisi kiri dan ada sebuah lubang besar yang menganga. Awalnya saya pikir itu adalah pintu darurat, tapi tidak ada pintu di sana. Itu seperti bagian tembok yang lepas,” katanya.

Beberapa jam setelah insiden itu, Alaska Airlines mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan penerbangan seluruh armadanya, yang terdiri dari 65 pesawat Boeing MAX 9, untuk dilakukan pemeriksaan.

Boeing 737 MAX 9, jenis terbaru dari Boeing 737 yang mulai beroperasi sejak 2017, adalah pesawat bermesin ganda dengan lorong tunggal yang sering digunakan pada penerbangan domestik di AS.

Lebih dari satu dekade lalu, Boeing mempertimbangkan untuk merancang dan memproduksi pesawat baru untuk menggantikan seri 737. Namun, persaingannya dengan Airbus, yang memasarkan jenis pesawat yang lebih hemat bahan bakar dari seri A320 yang berukuran sama, membuat Boeing memutuskan untuk mengubah 737 dan meluncurkan MAX.

Pakar penerbangan John Strickland mengatakan maskapai-maskapai lain dapat mengikuti langkah Alaska Airlines untuk melarang terbang jet Boeing 737 MAX 9 demi pemeriksaan keamanan—terutama setelah 737 MAX, model terlaris Boeing, dilarang terbang setelah kecelakaan pada tahun 2018 dan 2019.

“Masih terlalu dini untuk mengetahui mengapa bagian badan pesawat ini terlepas. Yang perlu dicatat adalah bahwa pesawat itu merupakan pesawat yang sangat baru; baru diproduksi dan mulai beroperasi pada bulan November 2023. Tentu saja, kami tidak menyangka ada insiden pesawat semacam ini, sudah berapa lama pun digunakan dan sebaik apapun perawatannya. Jadi, menurut saya ini merupakan hal yang khusus dengan umur pesawat yang sangat baru,” ujar Strickland.

Sebelumnya, pesawat Boeing MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh di Indonesia pada tahun 2018, dan jenis pesawat sama yang dioperasikan oleh Ethiopian Airlines jatuh pada tahun 2019. Pihak-pihak otoritas penerbangan di seluruh dunia sempat melarang terbang pesawat tersebut selama hampir dua tahun, sementara Boeing mengubah sistem kontrol penerbangan otomatis pada jenis pesawat itu. [br/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com