Puluhan Ribu Warga Palestina Berbondong-bondong Masuki Gaza Selatan

Puluhan ribu warga Palestina berbondong-bondong memasuki ke kota yang sudah padat penduduknya di ujung paling selatan Gaza dalam beberapa hari terakhir. PBB mengatakan, mereka menghindari pengeboman Israel di bagian tengah jalur tersebut, yang menurut para pejabat rumah sakit, menewaskan puluhan orang pada hari Jumat (29/12).

Serangan udara dan darat Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Hamas telah menyebabkan sekitar 85 persen dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza mengungsi. Mereka mencari perlindungan ke daerah-daerah aman yang ditetapkan Israel yang sebetulnya juga telah dibom Israel.

Orang-orang tiba di Rafah dengan truk, gerobak, dan berjalan kaki. Mereka yang tidak tertampung di tempat-tempat penampungan yang sudah terlalu padat terpaksa membangun tenda-tenda di pinggir jalan.

“Orang-orang menggunakan ruang kosong untuk membangun gubuk,” kata Juliette Touma, direktur komunikasi di UNRWA, badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina. “Beberapa orang tidur di mobil mereka, dan yang lain tidur di tempat terbuka.”

Pakaian-pakaian digantung di tempat penampungan sementara di sebuah kamp pengungsi Palestina di Rafah, jalur Gaza selatan, 28 Desember 2023, di tengah berlanjutnya pertempuran antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. (MAHMUD HAMS/AFP)

Kampanye militer Israel yang meluas, yang telah meratakan sebagian besar wilayah utara, kini terfokus pada kamp-kamp pengungsi perkotaan Bureij, Nuseirat dan Maghazi di bagian tengah Gaza, di mana pesawat-pesawat tempur dan artileri Israel telah meratakan bangunan-bangunan.

Namun pertempuran belum mereda di wilayah utara, dan kota Khan Younis di selatan, tempat Israel meyakini para pemimpin Hamas bersembunyi, juga merupakan medan pertempuran yang membara. Hamas terus menembakkan roket, sebagian besar ke wilayah selatan Israel.

Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 21.300 warga Palestina, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, dan memicu krisis kemanusiaan yang menyebabkan seperempat penduduk Gaza kelaparan. Jumlah korban tewas dari Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas tidak membedakan antara warga sipil dan mereka yang terlibat pertempuran.

Para pejabat Israel telah mengabaikan seruan internasional untuk melakukan gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa hal itu akan menjadi kemenangan bagi Hamas. Mereka juga berjanji untuk membawa pulang lebih dari 100 sandera yang masih ditahan oleh Hamas setelah serangan mereka pada 7 Oktober di Israel Selatan yang memicu perang. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil.

Pihak militer Israel mengatakan 168 tentaranya tewas sejak serangan darat dimulai. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com