Presiden Prancis Macron akan Beberkan Upaya Revitalisasi Kepresidenannya

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan mengadakan konferensi pers pertamanya, Selasa (16/1), untuk mengumumkan prioritas utamanya tahun ini ketika ia berupaya merevitalisasi kepresidenannya, dan berjanji untuk fokus pada “hasil” meskipun tidak memiliki mayoritas di parlemen.

Lebih dari tiga tahun sebelum masa jabatannya berakhir, Macron berusaha menghadirkan wajah-wajah dan ide-ide segar setelah menunjuk pemerintahan sentris baru pada pekan lalu yang dipimpin oleh perdana menteri termuda di Prancis.

Pada Selasa malam, Macron diperkirakan akan merinci tujuan-tujuan utama yang ditugaskan kepada Perdana Menteri baru yang populer, Gabriel Attal, 34, dan anggota Kabinet, untuk memperkuat warisan kebijakannya di tengah meningkatnya tekanan politik dari kelompok sayap kanan.

Konstitusi tidak mengizinkan Macron mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga berturut-turut pada tahun 2027.

Macron mengatakan dalam pidato Malam Tahun Barunya bahwa dia ingin tahun 2024 menjadi tahun dengan “hasil yang efektif” dan “kebanggaan Prancis” yang ditandai dengan Olimpiade Paris musim panas ini.

Jajak-jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa kekhawatiran utama masyarakat Perancis adalah kenaikan harga-harga, buruknya sistem kesehatan dan pendidikan, serta masalah keamanan.

Langkah Macron untuk menyegarkan pemerintahan terjadi setelah dua undang-undang utama yang dia janjikan disahkan tahun lalu. Yang pertama adalah mendorong usia pensiun dari 62 tahun menjadi 64 tahun. Yang kedua, tentang imigrasi, yang dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan Prancis dalam mendeportasi orang asing yang dianggap tidak diinginkan.

RUU imigrasi yang kontroversial telah dikritik oleh beberapa pihak oposisi karena dianggap terlalu berhaluan kanan, sementara Macron sendiri berpendapat bahwa RUU tersebut bukanlah kemenangan bagi kelompok sayap kanan.

Pemerintahannya masih menghadapi tantangan besar: Dengan tidak adanya mayoritas di parlemen, pemerintahannya hanya dapat mengesahkan undang-undang melalui tawar-menawar dengan anggota parlemen oposisi dan menggunakan kekuasaan konstitusional khusus.

Di tengah janji-janji lainnya, Macron mengatakan ingin mengembalikan Perancis ke kondisi dimana pekerjaan selalu tersedia pada akhir masa jabatannya. Proporsi pengangguran turun sejak ia menjabat pada tahun 2017 dari lebih dari 10% menjadi sekitar 7% pada tahun lalu, namun kini mulai meningkat lagi.

Pemilu Uni Eropa pada bulan Juni merupakan tantangan besar lainnya bagi presiden Perancis itu, yang merupakan pendukung setia Uni Eropa.

“Pemilu Eropa yang akan datang adalah kunci untuk memberikan lembaga-lembaga Uni Eropa alat, dinamika, dan legitimasi untuk mengatasi tantangan di masa depan,” tulis pakar politik Leonie Allard dan Maris Jourdain dalam sebuah analisis untuk lembaga think-tank Atlantic Council.

“Keberhasilan dalam pemilu Eropa juga penting bagi Macron di dalam negeri. Pada tahun 2019, pemilu di Perancis membawa partai ekstrem kanan, National Rally, ke Parlemen Eropa. Ini akan menjadi kemunduran besar dalam negeri bagi Macron untuk memerintah Perancis mengingat partainya kurang terwakili di parlemen itu,” kata mereka.

Macron sebelumnya pernah mengadakan beberapa konferensi pers di Istana Elysee – dan tidak pernah pada malam hari. Acara yang akan digelar Selasa ini akan berlangsung malam hari dan disiarkan langsung di beberapa saluran televisi nasional. [ab/ns]

Sumber: www.voaindonesia.com