Posisi Global AS Terpengaruh oleh Dukungannya Terhadap Tindakan Israel di Gaza

Dukungan AS terhadap Israel sementara negara itu melanjutkan operasinya untuk melenyapkan Hamas telah menimbulkan dampak global. Parlemen Eropa pada Kamis (18/1) dengan mudah meloloskan resolusi yang menyerukan gencatan senjata permanen, dengan syarat kelompok militan Hamas harus dilenyapkan dan sandera mereka dibebaskan.

Presiden AS Joe Biden, yang menolak seruan gencatan senjata, Kamis mengatakan bahwa jalan yang harus ditempuh dalam konflik ini masih panjang.

Dan meskipun presiden Israel Isaac Herzog mengakui bahwa operasi militer negaranya berdampak buruk terhadap 2 juta penduduk Gaza, ia mengatakan Israel tidak punya pilihan selain melanjutkannya.

Presiden Israel Isaac Herzog menunjukkan foto bayi berusia 10 bulan Kfir Bibas yang dipegang oleh Hamas selama sesi pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 18 Januari 2024. (Foto: AFP)

“Saya tidak mengelak dari tragedi kemanusiaan di Gaza. Anda ingin tahu? Kami peduli. Kami peduli. Menyedihkan sekali bagi kami karena tetangga kami begitu menderita. Tapi bagaimana lagi kami dapat membela diri jika musuh-musuh kami memutuskan untuk berkubu di dalam infrastruktur teror yang luar biasa besarnya?” kata Herzog.

Para analis mengatakan dukungan Washington terhadap operasi Israel, yang telah menyebabkan puluhan ribu korban, “benar-benar” telah mengurangi reputasi AS di dunia.

“Sekarang ini, AS bahkan jauh lebih terkucil dalam masalah Gaza di PBB, di Majelis Umum dibandingkan dengan Rusia dua tahun silam,” kata Trita Parsi, wakil presiden eksekutif lembaga kajian Quincy Institute for Responsible Statecraft.

Sebuah tank tentara Israel bergerak di dekat perbatasan Israel-Gaza, di Israel selatan, Rabu, 17 Januari 2024. (Foto: AP)

Sebuah tank tentara Israel bergerak di dekat perbatasan Israel-Gaza, di Israel selatan, Rabu, 17 Januari 2024. (Foto: AP)

Hal ini menghambat upaya-upaya AS di bidang lain, seperti upayanya menggalang sekutu-sekutu lamanya untuk bertindak menghadapi pemberontak Houthi yang menyerang kapal-kapal niaga di Laut Merah.

Trita Parsi mengatakan bahwa satu-satunya negara besar yang masih berada dalam koalisi untuk itu adalah Inggris. Negara-negara lainnya, seperti Prancis, Spanyol, Italia, telah keluar. Ini kembali menunjukkan betapa melemahnya kekuatan AS untuk menggalang kekuatan karena ketidaksepakatan kebijakan yang mendalam yang ada sekarang antara AS dan beberapa sekutu terdekatnya.

Ini semakin menguatkan mereka yang telah lama mengeluhkan hegemoni AS, seperti Afrika Selatan. Awal bulan ini, negara itu menggugat Israel atas tuduhan genosida di Mahkamah Internasional.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, pada sebuah rapat umum bulan ini mengatakan, “Kami mengutuk sekeras-kerasnya pembantaian dan genosida mengerikan terhadap rakyat Palestina yang dilakukan di Gaza dan Tepi Barat.”

Dalam beberapa hari mendatang, Afrika Selatan akan termasuk di antara 120 delegasi yang bertemu di Uganda untuk mengikuti KTT Gerakan Non-Blok, yakni kumpulan negara-negara yang tidak secara resmi bersekutu dengan atau menentang blok kekuatan besar mana pun.

Mereka yang mengamati badan-badan internasional dengan cermat mengatakan bahwa hal ini juga merugikan AS.

“Dengan mengisyaratkan keinginan untuk mengubah arah keinginan global, ketika berkepentingan dalam melindungi Israel, AS sebenarnya mendelegitimasi lembaga-lembaga tersebut, pada dasarnya mengatakan bahwa lembaga-lembaga ini tidak lebih dari alat politik kekuatan besar,” ujar Anjali Dayal, asisten profesor ilmu politik internasional di Fordham University. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com