Pesawat yang Sempat Ditahan di Prancis atas Dugaan Perdagangan Orang Tiba di India

Sebuah pesawat sewaan yang sempat ditahan di Prancis untuk penyelidikan perdagangan orang, tiba di India, Selasa (26/12) pagi. Pesawat itu mengangkut 276 warga India, kata pihak berwenang.

Pemerintah daerah mengatakan bahwa 276 dari seluruhnya 303 penumpang itu dalam perjalanan ke Mumbai, dan 25 lainnya yang meminta suaka di Prancis dipindahkan ke zona khusus di bandara Charles de Gaulle Paris untuk pencari suaka, katanya.

Para penumpang dari pesawat yang sempat ditahan di bandara Prancis itu mencakup seorang anak usia 21 bulan dan beberapa anak di bawah umur tanpa pendamping.

Dua penumpang lainnya semula ditahan sebagai bagian dari penyelidikan perdagangan orang. Kantor kejaksaan Paris mengatakan mereka dibebaskan pada Senin (25/12) setelah dihadapkan ke hakim.

Hakim menyebut mereka sebagai ”saksi yang dibantu” dalam kasus tersebut. Ini adalah status khusus berdasar hukum Prancis yang memberi waktu untuk penyelidikan lebih lanjut, yang pada akhirnya bisa menyebabkan tuntutan atau pembatalan kasus.

Pesawat Legend Airlines A340 mendarat di Prancis pada Kamis (21/12) untuk mengisi bahan bakar di Vatry dalam perjalanan dari bandara Fujairah di Uni Emirat Arab menuju Managua, Nikaragua. Pesawat itu dilarang terbang oleh polisi yang mendapat informasi anonim bahwa pesawat itu mungkin membawa korban perdagangan orang.

Jaksa tidak mau berkomentar apakah tujuan akhir para penumpang adalah Amerika Serikat (AS). Jumlah warga India yang melintasi perbatasan Meksiko-Amerika tahun ini meningkat.

Pihak berwenang Prancis masih berupaya menentukan tujuan penerbangan, dan membuka penyelidikan yudisial terhadap aktivitas kelompok kriminal terorganisir yang membantu orang asing memasuki atau tinggal di suatu negara secara ilegal, kata kantor kejaksaan.

Pada Senin (25/12) tidak disebutkan secara spesifik apakah mereka masih mencurigai perdagangan orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan perdagangan orang manusia sebagai “perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan orang melalui kekerasan, penipuan atau pengelabuan, dengan tujuan mengeksploitasi mereka untuk mendapatkan keuntungan.”

Bandara Vatry dikuasai polisi selama berhari-hari. Pejabat setempat, petugas medis dan relawan menyediakan tempat tidur bayi dan memastikan mereka yang ditahan di sana mendapat makanan dan mandi teratur. Bangunan itu berubah menjadi ruang sidang darurat pada Minggu (24/12) ketika para hakim, pengacara dan penerjemah memenuhi terminal untuk melakukan sidang darurat guna menentukan langkah selanjutnya.

Beberapa pengacara pada sidang itu memrotes penanganan pihak berwenang terhadap situasi tersebut dan hak-hak penumpang. Mereka menilai reaksi polisi dan jaksa berlebihan atas informasi anonim.

Kedutaan Besar India menyampaikan rasa terima kasihnya melalui platform X, sebelumnya Twitter, kepada pejabat Prancis yang memastikan bahwa orang-orang India tersebut dapat pulang.

Pihak berwenang Prancis bekerja sepanjang Malam Natal dan pagi Natal agar penumpang bisa meninggalkan Prancis, kata jaksa wilayah Annick Browne kepada kantor berita Associated Press.

Orang asing bisa ditahan hingga empat hari di zona transit untuk penyelidikan polisi di Prancis. Setelah itu, hakim khusus harus memutuskan apakah memperpanjangnya hingga delapan hari.

Pengacara Legend Airlines Liliana Bakayoko mengatakan beberapa penumpang tidak ingin pergi ke India karena mereka telah membayar biaya perjalanan wisata ke Nikaragua. Maskapai ini membantah terlibat kemungkinan perdagangan orang.

Pemerintah AS telah menetapkan Nikaragua sebagai satu dari beberapa negara yang dianggap gagal memenuhi standar minimum untuk menghapus perdagangan orang. Nikaragua juga telah digunakan sebagai batu loncatan migrasi bagi orang-orang yang melarikan diri dari kemiskinan atau konflik karena negara itu menerapkan persyaratan masuk yang longgar atau bebas visa untuk beberapa negara. Terkadang penerbangan charter digunakan untuk perjalanan tersebut. [ka/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com