Perlu Lebih Banyak Tindakan untuk Atasi Gas Rumah Kaca

Dunia perlu mengambil lebih banyak upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, mengingat melonjaknya suhu merupakan kekhawatiran besar. Peringatan itu diberikan kepala badan iklim PBB yang baru pada Selasa.

Celeste Saulo mengatakan, umat manusia sedang menghadapi salah satu tantangan terberatnya dan memiliki kewajiban untuk menciptakan masa depan lebih cerah. “Kita masih jauh dari tindakan yang cukup, dalam mengurangi gas rumah kaca, dan hal ini benar-benar memprihatinkan,” katanya dalam konferensi pers pertamanya sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Meterorologi Dunia (WMO).

“Umat manusia sedang menghadapi salah satu tantangan paling kompleks, perubahan iklim. Selama beberapa tahun ke depan, kita mempunyai peluang, tugas, dan kemungkinan, untuk membentuk narasi aksi iklim. Kita bukan sekedar pengamat; kita adalah arsitek masa depan yang berkelanjutan,” tambah dia.

Dia mengatakan bahwa beradaptasi terhadap perubahan iklim bukan lagi pilihan namun sebuah kebutuhan, seperti halnya membangun kapasitas untuk melawan dan pulih dari bencana terkait iklim.

“Di bawah kepemimpinan saya, kami akan memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan aksesibilitas data, dan membuat ilmu pengetahuan serta informasi yang tepat waktu dan dapat menyelamatkan jiwa, dapat diakses oleh semua orang,” ujar Saulo.

Dia menambahkan, upaya ini bukanlah jalan yang mudah, namun jika semua pihak memiliki kekuatan dan tekad, umat manusia akan melaluinya demi komunitas global dan generasi mendatang.

Saulo (59 tahun), menjabat Badan Meteorologi Nasional Argentina sejak 2014 sebelum menjadi pemimpin perempuan pertama WMO yang mulai menjabat awal bulan ini.

Tentang Bagaimana, Bukan Apa

Saulo ingin memastikan semua orang di planet ini terlindungi oleh sistem peringatan dini terbaik terhadap bahaya cuaca yang akan datang, dan meningkatkan pemantauan gas rumah kaca global, melalui pengamatan terintegrasi berbasis ruang dan permukaan.

Dia mengatakan jejaknya akan tertuju pada “bagaimana, bukan pada apa”.

“Jika kita gagal dalam penerapannya, kita akan mengecewakan dunia. Di sinilah kekuatan saya akan difokuskan,” tambah ketua WMO tersebut.

Saulo mengatakan 30 negara sangat rentan terhadap bahaya iklim dan memerlukan peringatan dini yang lebih baik. Mereka sebagian besar adalah negara-negara kepulauan kecil dan negara di Afrika. “Pada akhir 2024 kami akan menunjukkan kepada Anda hasil nyata di tingkat 30 negara tersebut,” janjinya.

Saulo mengatakan mobilisasi sumber daya untuk aksi iklim terlalu lambat dan birokratis. “Kadang-kadang ketika mereka mengambil keputusan, dibutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk mendapatkan dananya. Kita tidak bisa membiarkan rentang waktu tersebut untuk mengambil tindakan,” papar Saulo.

Perjanjian iklim Paris pada 2015 bertujuan untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah dua derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, dan 1,5 derajat Celsius jika memungkinkan. WMO pada Jumat lalu mengatakan bahwa rata-rata suhu global tahunan pada 2023 adalah 1,45 derajat Celsius di atas suhu pra-industri (1850-1900), tahun terpanas yang pernah tercatat.

Sembilan tahun terpanas yang pernah tercatat adalah sembilan tahun terakhir ini. “Apa yang ditunjukkan oleh atmosfer ini adalah bahwa tren tersebut memang ada, dan kita harus benar-benar khawatir dengan tren ini,” kata Saulo. [ns/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com