Pengungsi Gaza Unjuk Rasa Tuntut Gencatan Senjata

Puluhan orang yang mengungsi akibat perang di Gaza berunjuk rasa pada hari Rabu (24/1) untuk menuntut gencatan senjata.

Unjuk rasa di Deir al-Balah di Gaza tengah itu dihadiri banyak perempuan dan anak-anak yang menuntut untuk kembali ke rumah mereka di sisi utara Jalur Gaza.

Ismael Hassona, yang mengungsi dari kamp pengungsian Shati, mengatakan, “Kami ingin pulang ke rumah kami dan kembali ke kehidupan normal. Seperti orang lain di seluruh dunia, kami punya hak untuk hidup dalam keamanan.”

Kepada Associated Press, mereka mengaku “menderita,” karena tinggal di tenda pengungsian yang berbahaya dengan harga pangan yang mahal dan langka.

“Air menggenangi tenda-tenda dan keadaan kami menyedihkan, ditambah dengan harga-harga yang mahal dan tidak wajar. Kami tidak mampu membeli makanan ataupun kayu bakar untuk anak-anak kami, dan kami harus membelinya dengan harga dua kali lipat,” imbuhnya.

Noha Shaheen, pengungsi lain yang berunjuk rasa, sudah tidak tahan dengan kondisi hidupnya di pengungsian.

“Berapa lama lagi kami harus hidup seperti ini? Dalam siksaan ini? Situasi di sini tidak tertahankan. Kami bosan, penyakit-penyakit ini juga menyebar di kalangan anak-anak. Ke mana orang-orang harus pergi? Ke mana?,” keluhnya.

Unjuk rasa itu berlangsung ketika pasukan Israel sedang bertempur melawan militan Palestina di dekat rumah sakit utama di kota terbesar kedua di Gaza, di mana tenaga kesehatan mengatakan ratusan pasien dan ribuan orang terjebak di tengah pertempuran itu.

Israel telah memerintahkan warga meninggalkan wilayah pusat Kota Khan Younis, yang mencakup Rumah Sakit Nasser dan dua fasilitas kesehatan lebih kecil, seiring dilanjutkannya serangan Israel terhadap Hamas selama lebih dari tiga bulan terakhir.

Sementara itu, dalam pidato di hadapan parlemennya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu mengatakan bahwa perang melawan Hamas akan berakhir “dengan memberantas serangan” kelompok tersebut.

“Ini adalah perang di rumah kita. Ini harus berakhir dan akan berakhir dengan memberantas serangan dan kejahatan Nazi-Nazi baru. Mereka yang menyerang, menculik, memerkosa dan membunuh membawa kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan tangan mereka sendiri,” ujarnya.

Kantor Kemanusiaan PBB mengatakan, wilayah tersebut merupakan tempat tinggal 88.000 penduduk Palestina, yang kini juga harus menampung 425.000 pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di wilayah lain.

Sejak Israel melancarkan serangan, sekitar 1,7 juta orang terpaksa mengungsi di Gaza, menurut badan pengungsi PBB.

Sekitar 1,5 juta di antaranya, yang setara dengan dua pertiga penduduk Gaza, memadati tempat pengungsian dan tenda-tenda di dan sekitar Rafah, yang terletak di perbatasan Gaza dan Mesir.

Sedikitnya 210 warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah seluruh korban tewas di Gaza mencapai 25.700 jiwa, menurut Kementerian Kesehatan Hamas di Gaza.

Penghitungan korban tewas dilakukan tanpa membedakan mana korban sipil dan mana korban petempur, namun pihak kementerian mengatakan bahwa sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak.

Pejabat PBB khawatir semakin banyak nyawa orang yang terancam oleh penyakit, dengan setidaknya seperempat populasi Gaza menghadapi kelaparan. [rd/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com