Pendarat Bulan Milik Jepang Masuki Orbit Bulan

Wahana antariksa SLIM milik Jepang memasuki orbit bulan pada Senin (25/12), sebuah langkah besar menuju pendaratan pertama di bulan, yang diperkirakan akan dilakukan bulan depan.

“Pendarat Cerdas untuk Menyelidiki Bulan” atau “The Smart Lander for Investigating Moon” (SLIM) dijuluki “Penembak Jitu Bulan” atau “Moon Sniper” karena dirancang untuk mendarat dalam jarak 100 meter dari target tertentu di permukaan bulan.

Jika berhasil, pendaratan ini akan menjadikan Jepang sebagai negara kelima yang berhasil mendaratkan wahana di Bulan, setelah Amerika, Rusia, China, dan India.

Dalam pernyataan pers pada Senin (25/12) malam, Badan Eksplorasi Kedirgantaraan Jepang (JAXA) mengatakan SLIM “berhasil memasuki orbit bulan pada hari Senin pukul 16:51 waktu Jepang. “Pergeseran lintasannya tercapai seperti yang direncanakan, dan kondisi wahana tersebut terlihat baik-baik saja,” kata badan tersebut.

Pendaratan pendarat menuju bulan diperkirakan akan dimulai pada tanggal 20 Januari, sekitar pukul 12.00 waktu Jepang, sementara pendaratan di permukaan dijadwalkan 20 menit kemudian.

“Pendarat Cerdas untuk Investigasi Bulan” (SLIM) di gedung perakitan fairing satelit di Pusat Luar Angkasa Tanegashima, prefektur Kagoshima. (Foto: JAXA via AFP)

Roket H-IIA meluncur dari pulau selatan Tanegashima pada September dengan membawa pendarat itu, setelah tiga kali penundaan karena cuaca buruk.

JAXA mengatakan misi tersebut akan menjadi “pendaratan dengan presisi tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya” di bulan.

Pendarat ini dilengkapi dengan wahana berbentuk bola yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan mainan. Wahana yang sedikit lebih besar dari bola tenis ini dapat berubah bentuk, untuk bergerak di permukaan Bulan.

JAXA mengatakan dibandingkan dengan wahana sebelumnya yang mendarat “beberapa atau lebih dari 10 kilometer” dari target, margin kesalahan yang diklaim SLIM kurang dari 100 meter menunjukkan tingkat akurasi yang pernah dianggap mustahil, yang merupakan puncak upaya peneliti selama 20 tahun.

Manajer proyek SLIM JAXA, Shinichiro Sakai, mengatakan dengan kemajuan teknologi, semakin meningkat pula permintaan untuk menentukan target, seperti kawah dan bebatuan di permukaan bulan. “Hari-hari ketika hanya menjelajahi ‘suatu tempat yang diinginkan di bulan’ sudah berlalu,” katanya.

Harapannya, ketepatan SLIM akan membuat pengambilan sampel lapisan es bulan menjadi lebih mudah, sehingga para ilmuwan dapat selangkah lebih dekat untuk mengungkap misteri seputar sumber daya air di bulan, tambah Sakai.

Misi Jepang ini telah gagal dua kali, yaitu satu misi publik dan satu misi swasta.

Tahun lalu Jepang juga gagal mengirimkan wahana bulan bernama OMOTENASHI (teknologi eksplorasi bulan yang luar biasa yang didemonstrasikan oleh penabrak semi-keras nano) sebagai bagian dari misi Artemis 1 milik Amerika.

Sebuah perusahaan rintisan Jepang, ispace, pada bulan April lalu berupaya menjadi perusahaan swasta pertama yang mendarat di bulan. Namun hal itu tidak tercapai setelah mereka kehilangan komunikasi dengan pesawatnya, setelah apa yang mereka gambarkan sebagai “pendaratan yang keras.” [em/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com