Penangkapan ‘Mata-Mata MI6’ di China Mungkin Bagian dari Pembalasan

Penangkapan yang dilakukan China terhadap seorang laki-laki yang diduga bekerja sebagai mata-mata Inggris mungkin merupakan tindakan pembalasan, kata para analis.

Kasus tersebut, yang diumumkan pada hari Senin (8/1) oleh Kementerian Keamanan Negara China, terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mendalam di Inggris terhadap Beijing dan ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh negara komunis tersebut. Hal ini juga terjadi setelah penangkapan seorang peneliti parlemen Inggris pada tahun lalu karena dicurigai menjadi mata-mata China.

Menurut sebuah postingan pada hari Senin di akun resmi media sosial WeChat milik Kementerian Keamanan Negara China, badan intelijen MI6 Inggris merekrut seorang laki-laki bermarga Huang pada tahun 2015, yang sejak itu telah memberikan 17 informasi intelijen dan merekrut personel untuk badan tersebut menggunakan peralatan mata-mata yang disediakan oleh pemerintah Inggris.

Pihak berwenang China tidak mengungkapkan kewarganegaraan atau jenis kelamin Huang namun mengatakan bahwa tersangka mata-mata tersebut berasal dari “negara ketiga” yang tidak disebutkan namanya dan menjalani perekrutan dan pelatihan di Inggris dan lokasi lainnya. Mereka juga mengatakan bahwa individu tersebut bekerja dengan menyamar sebagai konsultan luar negeri.

Kementerian itu tidak memberikan bukti yang mendukung klaim tersebut atau mengungkapkan kondisi atau keberadaan Huang saat ini. Namun mengatakan bahwa pihak keamanan negara “segera melaporkan dan mengatur kunjungan konsuler, melindungi hak sah Huang sesuai dengan hukum.”

Ketika dihubungi oleh VOA, Kementerian Luar Negeri Inggris pada hari Selasa (9/1) menjawab: “Sudah menjadi kebijakan lama kami untuk tidak mengonfirmasi atau menyangkal klaim yang berkaitan dengan masalah intelijen.”

Peter Humphrey, mantan jurnalis yang kemudian bekerja selama lebih dari satu dekade sebagai penyelidik penipuan di perusahaan-perusahaan Barat di China, mengatakan bahwa kasus ini tampak seperti “lelucon belaka.”

“Pertama, saya pikir ini adalah kelanjutan dari serangan Beijing terhadap konsultan Barat. Kedua, saya pikir Beijing sedang mencoba mencari kasus untuk membalas kita karena kita memergoki mereka melakukan sejumlah aktivitas di Inggris, Amerika serikat, Belgia, dll.,” kata Humphrey kepada VOA dalam wawancara telepon. “Beijing mati-matian mencari kasus untuk membalas kita.”

Departemen Kehakiman AS pada hari Senin mengatakan seorang anggota Angkatan Laut AS keturunan Tionghoa-Amerika dijatuhi hukuman 27 bulan penjara dan diperintahkan untuk membayar denda $5.500 setelah mengaku bersalah pada bulan Oktober karena menerima suap untuk memberikan informasi militer sensitif kepada perwira intelijen China.

Inggris menuduh mata-mata China menargetkan pejabat di kementerian-kementerian penting, sementara China telah mengungkap beberapa kasus yang menuduh warga negara asing, termasuk warga Inggris dan Amerika Serikat, melakukan kegaiatan mata-mata.

Pada bulan September, surat kabar The Times melaporkan bahwa badan intelijen Inggris menangkap peneliti parlemen Inggris Chris Cash karena dicurigai menjadi mata-mata China. Cash memiliki hubungan dekat dengan Menteri Parlemen Alicia Kearns, ketua Komite Urusan Luar Negeri saat ini, dan Tom Tugendhat, mantan menteri pertahanan dan menteri keamanan.

Peneliti kebijakan lain yang bekerja di Parlemen Inggris, yang dalam sebuah wawancara dengan VOA meminta untuk tidak disebutkan namanya karena tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka mengenai masalah ini, mengatakan tingkat keamanan di parlemen telah berubah sejak Cash ditangkap.

“Dalam waktu sekitar satu bulan, mereka mengubah seluruh protokol keamanan mereka. Dan sekarang proses pengajuannya benar-benar berbeda,” kata peneliti tersebut, seraya menambahkan bahwa masa keemasan hubungan Inggris-China telah berakhir.

Benedict Rogers, salah seorang pendiri dan ketua kelompok hak asasi manusia Hong Kong Watch yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada VOA bahwa tuduhan yang dibuat oleh China tidak hanya memperburuk hubungan China-Inggris tetapi juga berdampak signifikan terhadap warga negara asing dan perusahaan yang beroperasi di China.

“Apakah tuduhan China itu benar atau apakah ini merupakan pembalasan dendam dalam menanggapi tuduhan aktivitas spionase China di Westminster masih harus dilihat, namun bagaimanapun juga, insiden ini berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih berisiko dan berbahaya bagi warga negara Inggris yang melakukan bisnis atau bepergian ke China,” katanya.

David Moore, peneliti kebijakan di Parlemen Inggris, mengatakan Inggris tidak perlu takut akan pembalasan dari pemerintah China.

“Sudah waktunya kita perlu menindak spionase China, apakah itu mencoba menyusup ke institusi kita atau di jalan-jalan kita dengan kantor polisi China yang telah beroperasi di seluruh dunia Barat,” katanya kepada VOA merujuk pada dugaan tindakan kepolisian yang dilakukan pasukan keamanan China di negara asing termasuk AS.

Dalam pidatonya pada bulan Juli di Kedutaan Besar Inggris di Praha, kepala Badan Intelijen Rahasia Inggris mengatakan China adalah satu-satunya fokus strategis terpenting mereka. “Saat ini kita mencurahkan lebih banyak sumber daya untuk China dibandingkan negara lain, hal ini mencerminkan semakin pentingnya China secara global.”

VOA menghubungi Kedutaan Besar China di London untuk memberikan komentar, namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan. [my/rs]

Adrianna Zhang berkontribusi pada laporan ini

Sumber: www.voaindonesia.com