Penangkapan Mantan PM Khan Bukan atas Permintaan Pemerintah

Seorang anggota kabinet Pakistan pada Rabu (10/5) mengatakan penangkapan mantan PM Imran Khan sehari sebelumnya “tidak bermotif menjadikan seseorang sebagai korban politik” dan “tidak dilakukan atas permintaan pemerintah.”

Ahsan Iqbal, Menteri Perencanaan dan Pembangunan, mengatakan bahwa penangkapan itu sejalan dengan “prosedur hukum yang tepat” dan dilakukan oleh Biro Akuntabilitas Nasional (NAB). Iqbal menegaskan bahwa lembaga tersebut “independen.”

NAB menahan dan menyelidiki para mantan pejabat, termasuk mantan perdana menteri, politisi dan pensiunan perwira militer.

Namun sebagian kalangan menganggap NAB sebagai alat yang digunakan oleh mereka yang berkuasa, khususnya militer, untuk menindak keras lawan-lawan politik.

Personil keamanan memegang tameng antipeluru untuk mengamankan mantan Perdana Menteri Imran Khan, tengah, setelah muncul di pengadilan, di Lahore, Pakistan, 21 Maret 2023. (Foto: AP)

Sewaktu Khan berkuasa, pemerintahnya menangkap pemimpin oposisi ketika itu Shahbaz Sharif melalui NAB. Sharif sedang menghadapi banyak kasus korupsi sewaktu ia berusaha menyingkirkan Khan dalam mosi tak percaya pada 2022. Dakwaan terhadapnya kemudian dibatalkan, dengan alasan kurangnya bukti.

Saudara perdana menteri yang sekarang, Nawaz Sharif, yang juga pernah menjadi perdana menteri, ditangkap beberapa kali atas tuduhan korupsi.

Dalam pidato yang ditayangkan di televisi pada Rabu (10/5), Iqbal menggambarkan reaksi para pengikut Khan terhadap penangkapannya sebagai “bentuk hasutan terburuk” dan menuduh Khan “menyebarkan anarki hanya untuk melindungi dirinya sendiri dari pertanggungjawaban.”

Ini terjadi sementara Pakistan bersiap menghadapi lebih banyak lagi gejolak sehari setelah Khan diseret pergi dari pengadilan di Islamabad dan para pendukungnya bentrok dengan polisi di berbagai penjuru negara itu.

Pemimpin oposisi berusia 70 tahun itu diperkirakan hadir dari pengadilan pada hari Rabu untuk persidangan, di mana hakim akan diminta untuk menyetujui penahanannya hingga 14 hari.

Khan, yang kehilangan kekuasaan tahun lalu namun tetap menjadi sosok oposisi paling populer di Pakistan, adalah perdana menteri ketujuh yang ditahan di Pakistan.

Penangkapan itu memperbesar gejolak politik dan memicu demonstrasi dengan kekerasan. Sedikitnya satu orang tewas di Quetta, kota di bagian selatan, dan puluhan lainnya terluka di berbagai penjuru negara itu.

Partai pimpinan Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf menyerukan agar para demonstran tetap tenang beberapa jam setelah massa yang marah atas penangkapan Khan yang dramatis itu membakar kediaman seorang jenderal militer di Lahore, kota di bagian timur. [uh/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com