PBB Kecam Serangan ISIS atas Minoritas Hazara di Afghanistan

PBB telah mendesak Taliban yang berkuasa di Afghanistan untuk mengadili para pelaku pemboman minibus yang menelan korban jiwa di Kabul pada Sabtu malam (6/1) yang menarget anggota komunitas minoritas Hazara-Syiah.

Polisi Taliban menyatakan serangan hari Sabtu (6/1) di lingkungan barat Dasht-e-Barchi di ibu kota Afghanistan itu menewaskan sedikitnya lima penumpang dan melukai belasan lainnya. Pernyataan sebelumnya menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak dua orang.

Sebuah afiliasi regional ISIS, yang dikenal sebagai ISIS-Khorasan, atau IS-K, mengaku bertanggung jawab, dan mengatakan bahwa mereka meledakkan bom di bus yang membawa Muslim Syiah. Kelompok militan Sunni tersebut mengutuk warga Syiah sebagai orang-orang kafir.

“Sedikitnya 25 anggota komunitas Hazara di Kabul tewas dan terluka dalam ledakan tadi malam di Dasht-e Barchi,” kata Misi Bantuan PBB di Afghanistan pada hari Minggu (7/1) di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

“UNAMA menyerukan diakhirinya serangan yang menarget warga sipil, perlindungan yang lebih besar bagi komunitas Hazara Afghanistan dan akuntabilitas bagi para pelakunya,” tulis Misi Bantuan PBB di Afghanistan (United Nations Assistance in Afghanistan/UNAMA).

Dasht-e-Barchi adalah lingkungan yang mayoritas penduduknya Syiah dan sering mengalami serangan bom militan yang menarget masjid, sekolah, dan rumah sakit. IS-K mengaku bertanggung jawab atas hampir semua serangan baru-baru ini terhadap komunitas Hazara di kota tersebut dan di tempat-tempat lain di Afghanistan, yang menewaskan ratusan warga sipil.

Kelompok militan ini juga menarget para tokoh agama terkemuka di Afghanistan yang terkait dengan Taliban sejak mereka kembali menguasai negara itu lebih

Para pejabat Taliban mengklaim operasi kontraterorisme mereka membuahkan penurunan jumlah serangan IS-K secara nasional sebesar 90% pada tahun lalu. Ditambahkan bahwa kelompok tersebut tidak mampu mengancam Afghanistan atau sekitarnya.

Namun, Amerika Serikat mengatakan IS-K “masih merupakan ancaman teroris” bagi negara yang dikoyak konflik itu dan kawasan Asia Selatan.

“ISIS-K tetap menjadi ancaman teroris. Tentu saja, mereka sebagian besar berbasis di Afghanistan. Di sanalah mereka bermarkas,” kata John Kirby, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS kepada para wartawan pada hari Kamis (4/1). Dia menggunakan akronim yang berbeda untuk kelompok tersebut.

Kirby menanggapi pertanyaan tentang kekuatan IS-K dan kemampuannya mengancam keamanan global setelah kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri yang menewaskan hampir 100 orang di Iran yang mayoritas penduduknya Syiah pada Rabu (3/1) lalu.

Pihak berwenang Iran mengatakan setelah serangan mematikan di kota Kerman di Iran tenggara, mereka menutup “bagian-bagian yang rentan” dari perbatasan panjang negara itu dengan Afghanistan dan Pakistan sebagai bagian dari “rencana komprehensif” untuk meningkatkan keamanan nasional.

Media Iran melaporkan bahwa rencana tersebut berawal dari kekhawatiran bahwa “imigran ilegal” dan “teroris” dari kedua negara tetangga tersebut telah menyelinap ke wilayah Iran, sehingga menimbulkan ancaman keamanan.

Baik Islamabad maupun Kabul mengutuk serangan bom di Iran, namun kedua negara belum menanggapi tuduhan teror yang dilontarkan oleh Teheran. [lt/em]

Sumber: www.voaindonesia.com