Pasukan Israel Serang Jalur Gaza di Tengah Pembicaraan Mengenai Gencatan Senjata Sementara yang Baru

Israel, Rabu (24/1) mengatakan bahwa pasukannya melancarkan serangan udara dan darat di bagian utara, tengah dan selatan Gaza, sementara itu Sekjen PBB memperingatkan dampak perang “yang memilukan hati dan dahsyat” terhadap warga sipil Palestina dan lawatan utusan AS ke kawasan itu mencakup pembahasan kemungkinan gencatan senjata sementara yang baru.

Aksi militer Israel itu berlangsung antara lain di kota Khan Younis, di Gaza Selatan, di mana pertempuran berkembang semakin sengit dalam beberapa pekan ini dan Israel menyatakan telah mengepung daerah itu.

Peringatan militer Israel meminta orang-orang di beberapa daerah di bagian utara Khan Younis agar mengungsi. Ini adalah perintah terbaru yang kata Israel dimaksudkan untuk melindungi warga sipil dari pertempuran. Tetapi dengan perang bergerak lebih jauh ke selatan, dan hampir semua populasi telah meninggalkan rumah mereka, semakin sedikit tempat yang aman bagi warga sipil untuk mengungsi.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan perintah evakuasi itu berdampak pada wilayah berpenduduk 88 ribu orang itu selain sekitar 425 ribu pengungsi yang berlindung di sekolah-sekolah dan tempat-tempat lainnya. Wilayah itu juga merupakan lokasi bagi 20 persen “rumah sakit yang masih berfungsi sebagian di Jalur Gaza,” kata badan tersebut.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa seluruh populasi Gaza “mengalami kehancuran pada skala dan laju yang tak ada bandingannya dalam sejarah belakangan ini.”

Gedung Putih, Selasa (23/1) mengatakan utusan AS untuk Timur Tengah Brett McGurk berada di Kairo sebagai bagian dari upaya-upaya terbaru untuk mengamankan tercapainya gencatan senjata sementara, yang akan mencakup mekanisme pembebasan sandera yang ditawan Hamas di Gaz serta pembebasan orang-orang Palestina yang ditahan oleh Israel

“Pembicaraan tersebut sangat realistis dan serius mengenai upaya untuk mencapai kesepakatan pembebasan sandera lagi,” kata John Kirby, juru bicara Dewan Keamanan Nasional, kepada wartawan.

Pada akhir November, sekitar 100 dari 240 orang yang disandera Hamas dalam serangan 7 Oktober yang mengejutkan terhadap Israel telah dibebaskan dalam gencatan senjata sepekan, sebagai imbalan atas pembebasan 240 orang Palestina yang ditahan Israel. Tetapi tak seorang pun dari sekitar 130 atau lebih sandera yang tersisa di Gaza yang telah dibebaskan sejak itu. Pihak berwenang meyakini bahwa sekitar dua lusin sandera telah tewas atau dibunuh.

Israel bertekad untuk menghancurkan Hamas, yang memerintah di Gaza dan telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS, Inggris dan Uni Eropa, setelah para anggotanya menewaskan sekitar 1.200 orang dalam serangan Oktober lalu, berdasarkan penghitungan Israel.

Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikelola Hamas mengatakan sedikitnya 25.490 orang Palestina telah tewas dalam perang itu, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Kementerian itu tidak membedakan warga sipil dan anggota Hamas dalam penghitungan korban tewas. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com