Oposisi Kongo Tuduh Polisi Pakai Peluru Tajam Saat Bubarkan Demo Pemilu 

Seorang kandidat oposisi utama di Republik Demokratik Kongo menuduh polisi menggunakan peluru tajam untuk membubarkan protes pada Rabu (27/12) di ibu kota, ketika para demonstran menuntut pemilihan presiden pekan lalu diulangi.

Sambil memegang sebutir peluru, Martin Fayulu mengatakan kepada kantor berita Associated Press (AP) bahwa peluru itu mendarat di dekatnya, saat dia dibarikade di dalam markas besarnya sendiri, ketika terjadi kebuntuan dengan polisi. Klaimnya tidak dapat diverifikasi.

Polisi mengatakan tidak ada peluru tajam yang digunakan, hanya gas air mata, dan mereka memulihkan ketertiban. Jurnalis kantor berita AP melihat polisi menyerang secara fisik beberapa pengunjuk rasa. Fayulu adalah satu dari lima kandidat oposisi yang menyerukan protes di Kinshasa seminggu setelah pemilu.

Beberapa kelompok hak asasi manusia dan pengamat internasional juga mempertanyakan pemungutan suara tersebut dan menuduh pemungutan suara tersebut dilakukan secara ilegal. Banyak tempat-tempat pemungutan suara (TPS) yang terlambat dibuka, dan ada pula yang tidak buka sama sekali. Beberapa di antaranya kekurangan peralatan dan banyak kartu pemilih yang tidak terbaca karena tintanya luntur. Di beberapa wilayah Kongo, masyarakat masih memberikan suara lima hari setelah pemilu.

Hingga Selasa (26/12) malam, petahana Presiden Felix Tshisekedi memperoleh hampir 79 persen suara, pemimpin oposisi dan pengusaha Moise Katumbi memperoleh sekitar 14 persen, dan Fayulu memperoleh sekitar 4 persen dari sekitar 6 juta suara yang dihitung. Hasil akhir diharapkan muncul sebelum tahun baru.

Tshisekedi menghabiskan sebagian besar waktunya menjabat untuk mencoba mendapatkan legitimasi setelah pemilu 2018 yang disengketakan, di mana beberapa pengamat mengatakan Fayulu adalah pemenang yang sah.

Sekitar 44 juta orang atau hampir separuh dari jumlah penduduk Kongo diperkirakan akan memilih dalam pemilu tahun ini. Misi pemantau pemilu dari Konferensi Episkopal Nasional Kongo dan Gereja Kristus di Kongo mengatakan lebih dari 27 persen TPS tidak dibuka dan ada 152 laporan kekerasan, konfrontasi atau perkelahian. Hal ini berdasarkan sampel dari 1.185 laporan pengamat.

Setidaknya 100 demonstran berkumpul di sekitar markas Fayulu pada Rabu sambil melemparkan batu dan membakar ban. Beberapa orang mengurung diri di dalam markas itu, ketika polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet. Beberapa petugas menyerbu markas. Para demonstran berharap dapat bergerak ke komisi pemilihan umum, tetapi pemerintah pada Selasa melarang protes tersebut.[ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com