Netanyahu Keberatan dengan Pembentukan Negara Palestina Tanpa Jaminan Keamanan Israel 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (18/1) mengatakan kepada Amerika Serikat dalam sebuah konferensi pers bahwa ia merasa keberatan terhadap pembentukan negara Palestina yang tidak menjamin keamanan Israel.

Ia menambahkan bahwa ketiadaan pembentukan negara Palestina juga tidak menghalangi kesepakatan normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab beberapa tahun lalu. Ia pun masih berniat mengundang lebih banyak negara untuk bergabung ke dalam kesepakatan itu.

Israel dan pendukung utamanya, Amerika Serikat, tampak sedang berselisih. Netanyahu dan pemerintahan koalisi sayap kanannya menolak pembentukan negara Palestina, sementara Washington tetap menjunjung solusi dua negara sebagai jalan keluar terbaik untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut.

Dalam kunjungan keempatnya ke Timur Tengah pekan lalu sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyodorkan draf kesepakatan kepada Israel yang menyatakan bahwa negara-negara tetangganya yang mayoritas beragama Islam akan membantu merehabilitasi Gaza setelah perang usai dan melanjutkan integrasi ekonomi dengan Israel, hanya selama Israel berkomitmen untuk mengizinkan pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Perundingan yang dimediasi AS mengenai pembentukan negara Palestina di wilayah yang saat ini diduduki Israel gagal hampir satu dekade lalu.

Perkembangan terakhir dalam konflik Israel-Palestina yang sudah berlangsung selama puluhan tahun itu dimulai ketika militan Hamas menerobos masuk ke Israel selatan pada 7 Oktober, menyebabkan 1.200 orang tewas dan sekitar 250 lainnya diculik. Israel mengatakan, lebih dari 130 orang masih ditawan. [rd/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com