Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah Raih Zayed Award for Human Fraternity 2024

Bersama Sister Nelly León Correa, biarawati Chili yang bekerja dengan para narapidana dan Dr. Magdi Yacoub, pakar bedah jantung Mesir, pemimpin Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah menerima penghargaan bergengsi ini di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Penghargaan tahun ini bertepatan dengan peringatan lima tahun disepakatinya “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama,” yang ditandatangani Paus Fransiskus pada tahun 2019 dengan Imam Besar Universitas Al-Azhar, Ahmed Al-Tayyeb, ketika Paus melawat ke Uni Emirat Arab. Dokumen itu disebut-sebut akan menjadi inspirasi bagi ensiklik Paus berikutnya, Fratelli Tutti.

Paus: Semangat Persaudaraan Jadi Sarana Atasi Kebencian dan Ketidakadilan

Paus Fransiskus ikut merilis pesan video dalam upacara penganugerahan yang disiarkan secara langsung dari Abu Dhabi. Paus menyapa Imam Besar Ahmed Al-Tayyeb dan memuji keempat pemenang atas upaya mereka mempromosikan solidaritas demi perkembangan umat manusia.

“Saya mengucapkan terima kasih… dan saya percaya teladan mereka akan mendorong orang lain mengambil inisiatif yang ada dari kerjasama yang sangat bermanfaat di antara orang-orang dari berbagai agama, yang melayani seluruh keluarga, menghormati martabat dan mempromosikan nilai-nilai yang digagas dalam Dokumen Persaudaraan Umat Manusia.”

Paus menyebut semangat persaudaraan manusia sebagai sarana mengatasi kebencian dan ketidakadilan.

“Beberapa tahun ini, kita telah melakukan perjalanan dan menyadari bahwa dengan menghormati budaya dan tradisi yang berbeda, kita membangun persaudaraan untuk mengatasi kebencian, kekerasan, dan ketidakadilan,” ujarnya seraya mengakhiri pesan video singkatnya dengan ajakan “teruslah menebar benih-benih harapan.”

Ketua Umum PBNU Bertekad Lanjutkan Persaudaraan Kemanusiaan

Berbicara setelah menerima penghargaan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, menyebut triologi konsep persaudaraan yang disampaikan Rois Am PBNU KH Ahmad Shiddiq dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah yang mendasari organisasi organisasi Nadhlatul Ulama untuk membangun solidaritas persaudaraan dan kemanusiaan.

“Kami bangga menerima penghargaan ini dan sebagai ketua umum saya bertekad akan terus memperjuangkan persaudaraan kemanusiaan di seluruh dunia,” tegas Gus Yahya.

Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF) menetapkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai penerima penghargaan tahun 2024. (Courtesy: muhammadiyah.or.id)

Ketua PP Muhammadiyah Sebut Urgensi “Islam Berkemajuan”

Hal senada disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, yang menyampaikan rasa terima kasih dan mengatakan sejak terbentuk pada tahun 1912, “Muhammadiyah adalah gerakan Islamis yang didasarkan pada prinsip persaudaraan untuk semua umat manusia tanpa terkecuali… gerakan Islam moderat yang mempromosikan cara hidup bersama yang berpikiran terbuka, toleran, mengutamakan rasa kemanusiaan, dan lingkungan yang damai di tengah beragam agama, etnis dan budaya di Indonesia.”

Ditambahkannya, konsep baru “Islam berkemajuan” yang diusung Muhammadiyah saat ini mempromosikan lebih jauh “keadilan dan kemajuan bagi semua” di seluruh Indonesia, termasuk di daerah di mana Islam merupakan agama minoritas seperti di Papua dan NTT, lewat konsep “Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, atau agama yang menyebarluaskan benih kasih sayang, cinta dan damai.

Menlu Beri Ucapan Selamat

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ikut memberikan ucapan selamat lewat X, dulu dikenal sebagai Twitter, yang disebut sebagai “penerima pertama dari kawasan Asia, atas berbagai upaya kemanusiaan dan perdamaian yang telah dilakukan…”

Zayed Award Hargai Kinerja Individu dan Entitas yang Perjuangkan Upaya Memajukan Persaudaraan Antarmanusia

Zayed Award for Human Fraternity adalah penghargaan global tahunan independen yang diberikan oleh Komite Tinggi Persaudaraan Manusia. Penghargaan ini diberikan setiap tanggal 4 Februari, bertepatan dengan Hari Persaudaraan Manusia Internasional. Penghargaan ini diberikan kepada individu, organisasi atau entitas di seluruh dunia, yang secara langsung memberikan contoh dan berkolaborasi tanpa kenal lelah dengan siapa pun untuk menjembatani kesenjangan hubungan antarmanusia yang nyata. Penerima anugrah ini mendapat hadiah sebesar US$1 juta.

Penghargaan ini mulai diberikan pada tahun 2019 untuk menandai pertemuan bersejarah antara kepala Gereja Katolik, Paus Fransiskus, dan Imam Besar Al-Azhar, Profesor Ahmed Al-Tayeb, di Abu Dhabi, di mana kedua tokoh besar tersebut menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia. Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Tayeb adalah penerima kehormatan pertama Zayed Award for Human Fraternity.

Nama penghargaan diambil dari nama Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, mendiang penguasa Abu Dhabi dan pendiri Uni Emirat Arab, yang nilai-nilai kerendahan hati, kemanusiaan, dan rasa hormatnya melambangkan cita-cita abadi yang ingin dirayakan lewat penghargaan ini. [em/es]



Sumber: www.voaindonesia.com