Mediator Gaza Cari Rumusan Final untuk Gencatan Senjata Israel-Hamas

Mediator Amerika Serikat (AS), Qatar, dan Mesir menyiapkan upaya diplomatik untuk menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas mengenai rencana gencatan senjata di Gaza. Hal tersebut dilakukan setelah kelompok Palestina menanggapi proposal untuk perpanjangan jeda pertempuran dan pembebasan sandera.

Hamas pada Selasa membalas kerangka kerja yang dibuat lebih dari seminggu yang lalu oleh kepala mata-mata AS dan Israel pada pertemuan di Paris dengan Mesir dan Qatar.

Perincian mengenai tanggapan dari Hamas tidak diungkapkan. Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan pada Selasa bahwa mereka merespons “dengan semangat positif, memastikan gencatan senjata yang komprehensif dan lengkap, mengakhiri agresi terhadap rakyat kami, memastikan bantuan, perlindungan, dan rekonstruksi, mencabut pengepungan di Jalur Gaza, dan mencapai pertukaran tahanan.”

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, dalam kunjungan singkatnya ke Timur Tengah, mengatakan dia akan membahas tanggapan Hamas dengan para pejabat Israel ketika dia mengunjungi negara itu pada Rabu (7/2).

Di Doha, Blinken berkata, “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan… tetapi kami tetap yakin bahwa kesepakatan dapat dicapai, dan memang penting.”

Qatar menggambarkan tanggapan Hamas secara keseluruhan “positif” sementara sumber keamanan Mesir mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas menunjukkan fleksibilitas.

“Kami akan membahas semua perincian kerangka yang diusulkan dengan pihak-pihak terkait untuk mencapai kesepakatan mengenai formula akhir sesegera mungkin,” kata Diaa Rashwan, Kepala Layanan Informasi Negara Mesir, sebagaimana dikutip.

Sumber-sumber yang dekat dengan perundingan mengatakan gencatan senjata akan berlangsung setidaknya selama 40 hari. Pada saat itu Hamas akan membebaskan warga sipil di antara sisa sandera yang mereka tawan.

Tank Israel berada di posisi di perbatasan Jalur Gaza, terlihat di Israel selatan, Selasa, 6 Februari 2024. (Foto: AP/Tsafrir Abayov)

Tahap selanjutnya akan menyusul, yaitu penyerahan tentara dan jenazah sandera yang tewas, sebagai imbalan atas pembebasan warga Palestina yang dipenjarakan di Israel. Gencatan senjata tersebut juga akan meningkatkan aliran makanan dan bantuan lainnya kepada warga sipil Gaza yang putus asa dan menghadapi kelaparan dan kekurangan pasokan bahan pokok.

Presiden AS Joe Biden mengatakan tanggapan Hamas menunjukkan “beberapa gerakan” menuju kesepakatan. Namun tidak jelas apakah Hamas atau Israel bersedia melunakkan posisi garis keras mereka untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Seorang pejabat Hamas yang meminta untuk tidak disebutkan namanya menegaskan kepada Reuters pada Selasa bahwa gerakan Islam Palestina tidak akan mengizinkan pembebasan sandera tanpa jaminan bahwa perang akan berakhir dan pasukan Israel meninggalkan Gaza.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan Israel tidak akan mengakhiri serangannya di Gaza sampai Hamas dimusnahkan dan mengesampingkan pembentukan negara Palestina.

Gambar yang diambil dari Rafah di Jalur Gaza selatan menunjukkan asap membubung di atas gedung-gedung di Khan Yunis dari kejauhan, menyusul pemboman Israel pada 5 Februari 2024. (Foto: AFP)

Gambar yang diambil dari Rafah di Jalur Gaza selatan menunjukkan asap membubung di atas gedung-gedung di Khan Yunis dari kejauhan, menyusul pemboman Israel pada 5 Februari 2024. (Foto: AFP)

Arab Saudi mengatakan kepada AS bahwa pihaknya tetap teguh bahwa tidak akan ada hubungan diplomatik dengan Israel kecuali negara Palestina merdeka diakui berdasarkan perbatasan t1967 dengan Yerusalem Timur, dan “agresi” Israel di Gaza berhenti, kata Kementerian Luar Negeri Saudi dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

Sandera Tewas

Ada gerakan Israel yang menuntut lebih banyak upaya untuk memulangkan para sandera, bahkan jika itu berarti kesepakatan dengan Hamas.

Militer Israel mengatakan pada Selasa bahwa 31 sandera yang tersisa di Gaza dinyatakan tewas. Israel sebelumnya mengatakan 136 sandera masih berada di Gaza setelah 110 orang dibebaskan berdasarkan gencatan senjata tujuh hari pada November ketika Israel juga membebaskan 240 warga Palestina yang ditahannya.

Mengutip penilaian Israel yang dibagikan kepada para pejabat AS dan Mesir, Wall Street Journal melaporkan bahwa sebanyak 50 sandera mungkin tewas, sehingga sekitar 80 sandera masih hidup.

Warga Palestina mengantre untuk mendapatkan distribusi makanan gratis selama serangan udara dan darat Israel yang sedang berlangsung di Khan Younis, Jalur Gaza, Jumat, 2 Februari 2024. (Foto: AP/Hatem Ali)

Warga Palestina mengantre untuk mendapatkan distribusi makanan gratis selama serangan udara dan darat Israel yang sedang berlangsung di Khan Younis, Jalur Gaza, Jumat, 2 Februari 2024. (Foto: AP/Hatem Ali)

Di Gaza, pasukan Israel pada Selasa terus menekan Khan Younis, kota utama di selatan yang mereka coba rebut selama berminggu-minggu. Setidaknya 14 orang tewas akibat serangan udara, kata warga Palestina dan petugas medis.

Rafah, di sebelah selatannya, juga terkena serangan udara dan tembakan tank. Dua orang tewas dalam serangan terhadap sebuah rumah di Rafah sementara enam polisi tewas setelah mobil mereka dihantam, kata pejabat kesehatan Gaza.

Para pemimpin Israel pekan lalu bertekad untuk melakukan serangan berikutnya ke Rafah, yang membuat khawatir badan-badan bantuan internasional. Badan tersebut mengatakan satu juta warga sipil yang mengungsi akan berada dalam bahaya, terjepit di pagar perbatasan dengan Mesir. [ah/ft]

.

Sumber: www.voaindonesia.com