Media Myanmar Hadapi Penindasan Sejak Kudeta 2021

Hari Kamis (1/2) ini menandai tiga tahun sejak militer Myanmar merebut kekuasaan melalui kudeta, yang memicu negara itu ke dalam periode konflik dan pembatasan kebebasan berpendapat.

Tindakan keras terhadap kebebasan media di negara itu menjadi titik fokus strategi militer untuk mempertahankan kekuasaan, kata para analis.

“Junta itu seperti jamur. Mereka berkembang dalam kegelapan, dan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menyembunyikan yang mereka lakukan termasuk serangan mereka terhadap warga sipil,” kata Tom Andrews, pelapor khusus PBB untuk situasi HAM di Myanmar kepada VOA. “Mereka akan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghentikan tersebarnya kabar tersebut.”

Sejak Desember 2023, Myanmar menduduki peringkat terburuk kedua di dunia, dengan memenjarakan 43 jurnalis, menurut Komite Perlindungan Wartawan.

“Profesi wartawan adalah salah satu profesi paling berbahaya di Myanmar,” kata seorang jurnalis yang berbasis di Bangkok kepada VOA.

Wartawan itu, yang melarikan diri dari Myanmar setelah kudeta, meminta agar tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan. Hanya sedikit jurnalis yang masih beroperasi di lapangan karena risiko keamanan. Juga banyak media memindahkan operasi mereka dan timnya ke luar negeri.

Beberapa media seperti Suara Demokratik Burma berhasil membangun kembali jaringan reporter mereka di dalam negeri. [ps/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com