Mantan Tentara Kolombia Mengaku Bersalah dalam Pembunuhan Presiden Haiti

Seorang mantan tentara Kolombia mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/12) atas dakwaan terkait dengan perannya dalam pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise pada 2021.

Jaksa mengatakan Mario Palacios adalah bagian dari pasukan kontraktor Kolombia yang masuk ke rumah Moise, di mana dia dibunuh. Palacios awalnya mengaku tidak bersalah dalam kasus tersebut.

Palacios, menurut pernyataan yang diajukannya, dipekerjakan bersama mantan personel militer Kolombia lainnya oleh perusahaan keamanan CTU yang berbasis di Florida untuk “memberikan keamanan” bagi seseorang yang akan menjadi presiden Haiti berikutnya.

Pengacara pemilik perusahaan Antonio Intriago, salah satu dari 11 terdakwa dalam kasus ini, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Pernyataan itu mengatakan bahwa sesampainya di negara tersebut, Palacios mengatakan dia mulai berlatih untuk menculik seseorang dari gedung yang dibentengi. Sebelum dimulainya operasi pada 7 Juli 2021, dia diberitahu bahwa Moise akan mati.

Palacios adalah orang kelima yang mengaku bersalah dalam kasus ini, dengan tiga orang sejauh ini dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Palacios akan dijatuhi hukuman pada 1 Maret.

Para terdakwa termasuk seorang pendeta Florida, mantan senator Haiti, mantan informan Badan Pengawasan Narkoba AS, dan pengusaha yang dituduh memasok dana dan senjata untuk serangan tersebut.

Sebuah mural bergambar mendiang Presiden Jovenel Moise menghiasi dinding di lingkungan Kenscoff di Port-au-Prince, Haiti, 21 Juli 2021. (Foto: AP)

Palacios mengatakan dia tidak ikut merencakan operasi tersebut dan bertindak sebagai “prajurit garis.” Ia menerima perintah dari warga Kolombia lainnya termasuk German Rivera, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Setelah Presiden Moise terbunuh, kata Palacios, dia dan kontraktor Kolombia lainnya mengambil uang dan perhiasan dari kediamannya.

Kematian Moise meninggalkan kekosongan kekuasaan yang mengganggu stabilitas, yang menyebabkan geng-geng bersenjata yang sangat kejam memperluas wilayah mereka. Hal tersebut memicu krisis kemanusiaan. Pemerintahan Haiti yang terbentuk tanpa melalui proses pemilihan, berkomitmen untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang telah lama dinanti-nantikan setelah situasi keamanan pulih. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com