Maersk Persiapkan Kembalinya Pelayaran di Laut Merah Pasca Serangan Houthi

Perusahaan pelayaran Maersk mengatakan bahwa mereka sedang bersiap untuk mengizinkan kapal-kapalnya kembali berlayar melalui Laut Merah, berkat dimulainya operasi angkatan laut multinasional pimpinan AS untuk melindungi pengapalan peti kemas dari serangan pemberontak Houthi di Yaman.

Serangan Houthi telah menyebabkan gangguan besar terhadap pelayaran melalui Terusan Suez dan Laut Merah, salah satu arteri terpenting perdagangan minyak, gas alam, biji-bijian, dan barang konsumsi antara Eropa dan Asia.

Maersk mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu bahwa “kami telah menerima konfirmasi bahwa inisiatif keamanan multinasional yang telah diumumkan sebelumnya, Operation Prosperity Guardian (OPG), kini telah dibentuk dan dikerahkan untuk memungkinkan perdagangan maritim melintasi Laut Merah-Teluk Aden dan kembali lagi menggunakan Terusan Suez sebagai pintu gerbang antara Asia dan Eropa.”

Perusahaan itu mengatakan pihaknya sedang menyusun rencana pelayaran pertama kapal-kapalnya “dan agar hal ini dapat dilakukan secepatnya selama memungkinkan secara operasional.”

Kelompok Houthi adalah pemberontak yang didukung Iran, yang telah merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada tahun 2014, dan melancarkan perang yang sengit melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang berupaya memulihkan pemerintahan di negara tersebut. Kelompok Houthi telah secara sporadis menarget kapal-kapal di wilayah tersebut, namun serangan mereka meningkat sejak perang Israel-Hamas pecah Oktober lalu.

Para pemberontak mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mereka yakini menuju atau berasal dari Israel. Serangan itu kini tampaknya telah menarget kapal mana pun, termasuk kapal kontainer dan tanker minyak yang berbendera Norwegia dan Liberia.

Perusahaan pelayaran besar termasuk Maersk telah menghindari Laut Merah dan mengirim kapal mereka mengelilingi Afrika dan Tanjung Harapan. Pengamat mengatakan, rute itu menambah waktu perjalanan satu hingga dua minggu.

Sabtu (23/12) lalu, sebuah kapal perang AS menembak jatuh empat drone yang masuk dari wilayah yang dikuasai Houthi, sementara sebuah kapal tanker bahan kimia dan minyak berbendera Norwegia melaporkan nyaris menjadi target serangan drone. Selain itu, kapal tanker berbendera India terkena serangan tanpa ada laporan cedera, kata Komando Pusat AS pada hari Minggu di X, platform yang sebelumnya bernama Twitter. Insiden tersebut merupakan serangan ke-14 dan ke-15 yang dilancarkan Houthi terhadap pelayaran komersial sejak 17 Oktober lalu. [rd/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com