Lampaui 878 Hari, Kosmonaut Rusia Catat Rekor Waktu Terlama di Luar Angkasa

Kosmonaut Rusia Oleg Kononenko pada Minggu (4/2) berhasil memecahkan rekor dunia untuk total waktu yang dihabiskan di luar angkasa. Ia berhasil melampaui rekan senegaranya Gennady Padalka yang mencatat lebih dari 878 hari di orbit, kata perusahaan luar angkasa Rusia.

Pada pukul 08.30 Kononenko memecahkan rekor tersebut, kata Roscosmos. Kononenko diperkirakan akan mencapai total 1.000 hari di luar angkasa pada 5 Juni dan pada akhir September ia akan mencapai 1.110 hari.

“Saya terbang ke luar angkasa untuk melakukan hal favorit saya, bukan untuk mencetak rekor,” kata Kononenko kepada TASS dalam sebuah wawancara dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) di mana ia mengorbit sekitar 423 km dari Bumi.

“Saya bangga dengan semua pencapaian saya, tetapi saya lebih bangga lagi karena rekor total durasi tinggal manusia di luar angkasa masih dipegang oleh seorang kosmonaut Rusia,” katanya.

Kosmonaut Rusia Oleg Kononenko berpose di Stasiun Luar Angkasa Internasional, 16 Mei 2012. (Foto: REUTERS/Roscosmos)

Oleg Kononenko, yang berusia 59 tahun, meraih posisi puncak dari Gennady Padalka, yang sebelumnya mencatat total 878 hari, 11 jam, 29 menit, dan 48 detik, menurut Roscosmos.

Pada awal perlombaan luar angkasa, Uni Soviet mengejutkan Barat dengan mencapai pencapaian seperti meluncurkan satelit pertama ke orbit Bumi, Sputnik 1, pada 1957, dan mengirim kosmonot Soviet Yuri Gagarin sebagai manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada 1961.

Namun setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, program luar angkasa Rusia menghadapi tantangan besar akibat kekurangan dana yang signifikan dan korupsi.

Para pejabat di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin telah berulang kali berkomitmen untuk mengatasi penurunan dalam program luar angkasa Rusia, meskipun tantangan serius masih ada, seperti yang disampaikan oleh pejabat dan analis luar angkasa.

Kosmonaut Oleg Kononenko bdi luar Stasiun Luar Angkasa Internasional dalam gambar yang diambil dari NASA TV, 16 Februari 2012. (Foto: REUTERS/NASA TV)

Kosmonaut Oleg Kononenko bdi luar Stasiun Luar Angkasa Internasional dalam gambar yang diambil dari NASA TV, 16 Februari 2012. (Foto: REUTERS/NASA TV)

Hidup di Antariksa

Kononenko mengatakan bahwa dia berolahraga secara teratur untuk melawan dampak fisik dari kondisi tanpa bobot yang “berbahaya.” Namun saat kembali ke Bumi barulah dia menyadari betapa banyak kehidupan yang telah dia lewatkan.

“Saya tidak merasa dirugikan atau diasingkan,” katanya.

“Hanya setelah kembali ke rumah barulah muncul kesadaran bahwa selama ratusan hari tanpa kehadiran saya, anak-anak tumbuh tanpa seorang ayah. Kali ini tidak ada seorang pun yang akan kembali kepada saya.”

Dia mengatakan para kosmonaut sekarang dapat menggunakan panggilan video dan pesan untuk tetap berhubungan dengan kerabat mereka.

Kononenko bermimpi pergi ke luar angkasa saat masih kecil dan mendaftar di institut teknik, sebelum menjalani pelatihan kosmonaut. Penerbangan luar angkasa pertamanya dilakukan pada 2008.

Ia melakukan perjalanan terakhirnya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun lalu menggunakan pesawat Soyuz MS-24.

ISS adalah salah satu dari sedikit proyek internasional di mana Amerika Serikat (AS) dan Rusia masih bekerja sama secara erat. Pada Desember, Roscosmos mengatakan bahwa program penerbangan silang dengan NASA ke ISS diperpanjang hingga 2025.

Namun hubungan kedua negara merosot sejak invasi Rusia ke Ukraina hampir dua tahun lalu. AS merespons dengan mengirim senjata ke Kyiv dan menerapkan serangkaian sanksi terhadap Moskow. [ah]

Sumber: www.voaindonesia.com