Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik

Korea Utara menembakkan rudal jarak menengah ke laut pada Minggu (14/1), kata Korea Selatan dan Jepang. Peluncuran tersebut terjadi ketika ketegangan antara ketiga negara meningkat pasca uji coba rudal balistik antarbenua dan satelit mata-mata militer pertama Pyongyang diluncurkan baru-baru ini.

Korea Utara meningkatkan tekanan terhadap Seoul dalam beberapa pekan terakhir, menyatakannya sebagai “musuh utama.” Pyongyang menegaskan Korea Utara tidak akan pernah bersatu kembali dengan Korea Selatan dan berjanji untuk meningkatkan kemampuannya dalam melancarkan serangan nuklir terhadap Amerika Serikat (AS) dan sekutu Washington di Pasifik.

Rudal yang diluncurkan pada Minggu, berasal dari wilayah Pyongyang sekitar pukul 14.55 waktu setempat, terbang sekitar 1.000 km di lepas pantai timur negara itu, demikian disampaikan militer Korea Selatan dalam sebuah pernyataan. Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa Seoul sedang melakukan analisis terhadap rudal tersebut, bekerja sama dengan AS dan Jepang.

Sebuah layar TV terlihat melaporkan berita mengenai pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 13 April 2023. (Foto: AP)

Ketinggian maksimum rudal tersebut setidaknya mencapai 50 km, dan rudal tersebut tampaknya jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang, kata Kementerian Pertahanan Jepang. Tokyo menyebut peluncuran rudal tersebut sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB.

Pada November, Korea Utara mengatakan pihaknya berhasil menguji mesin berbahan bakar padat yang dirancang untuk rudal balistik jarak menengah.

Pada Desember, negara tersebut mengatakan bahwa pihaknya telah menguji rudal balistik antarbenua terbarunya untuk mengukur kekuatan perang kekuatan nuklirnya melawan yang mereka sebut sebagai ketidakramahan AS, ketika Washington dan sekutunya mulai mengoperasikan sistem berbagi data misil secara real-time.

Pasukan Korea Utara membawa senjata berat kembali ke Zona Demiliterisasi di sekitar perbatasan Utara-Selatan dan memulihkan pos penjaga yang telah dihancurkan oleh kedua negara. Hal itu dilakukan setelah Seoul menghentikan sebagian dari perjanjian militer 2018 antara kedua Korea sebagai protes atas peluncuran satelit mata-mata oleh Pyongyang.

Korea Utara dan Korea Selatan tetap berada dalam keadaan teknis perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan dalam bentuk perjanjian perdamaian.

Sementara itu, Pyongyang justru semakin mempererat hubungan dengan Moskow. Menteri Luar Negeri Choe Son Hui akan mengunjungi Rusia dari Senin hingga Rabu atas undangan rekan sejawatnya Sergei Lavrov, demikian disampaikan oleh agensi berita Korea Utara KCNA pada Minggu. [ah]

Sumber: www.voaindonesia.com