Korea Utara Berencana Luncurkan Tiga Satelit Mata-mata pada 2024

Korea Utara berencana meluncurkan tiga satelit mata-mata lagi pada 2024 sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan performa militernya, media pemerintah melaporkan pada Minggu (31/12).

Pyongyang berhasil menempatkan satelit mata-mata ke orbit pada bulan lalu dan sejak itu mengklaim satelit tersebut memberikan gambaran situs militer utama Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan.

Tahun ini mereka juga melakukan sejumlah uji coba senjata yang memecahkan rekor, termasuk peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) yang paling tangguh pada bulan ini, dan menyalahkan meningkatnya ancaman dari AS.

“Tugas meluncurkan tiga satelit pengintaian tambahan pada 2024 telah dideklarasikan,” sebagai salah satu keputusan kebijakan penting untuk tahun depan pada pertemuan partai akhir tahun, kata Kantor Berita Korea KCNA.

Kim memeriksa foto satelit mata-mata baru dari ‘wilayah target’. (Foto: via Reuters)

Pertemuan lima hari yang berakhir pada Sabtu itu dihadiri oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

“Amerika Serikat, yang telah lama menyebabkan dan memperburuk ketidakstabilan politik di Semenanjung Korea, terus menimbulkan berbagai jenis ancaman militer terhadap negara kita bahkan ketika tahun ini akan segera berakhir,” kata Kim.

Seoul, Tokyo dan Washington meningkatkan kerja sama pertahanan dalam menghadapi meningkatnya ancaman rudal dan nuklir dari Pyongyang pada tahun ini. Ketiganya juga mengaktifkan sistem untuk berbagi data real-time terkait peluncuran rudal Korea Utara.

Pada awal bulan ini, sebuah kapal selam bertenaga nuklir AS tiba di kota pelabuhan Busan di Korea Selatan, dan Washington menerbangkan pesawat pembom jarak jauhnya dalam latihan dengan Seoul dan Tokyo.

Korea Utara sebelumnya menggambarkan penempatan senjata strategis Washington – seperti pesawat pengebom B-52 – dalam latihan bersama di semenanjung Korea sebagai “langkah provokatif perang nuklir yang disengaja.”

Kim memerintahkan Tentara Rakyat Korea di negaranya untuk memantau dengan cermat situasi keamanan di semenanjung tersebut dan “selalu merespons dengan sikap yang berlebihan.”

“Kita harus merespons dengan cepat kemungkinan krisis nuklir dan terus mempercepat persiapan untuk menenangkan seluruh wilayah Korea Selatan dengan memobilisasi semua sarana dan kekuatan fisik, termasuk kekuatan nuklir, jika terjadi keadaan darurat,” katanya.

Situasi Krisis yang Tak Terkendali

Pada pertemuan tersebut, Kim mengatakan dia tidak akan lagi mengupayakan rekonsiliasi dan reunifikasi dengan Korea Selatan, mengingat “situasi krisis yang tidak dapat dikendalikan” yang menurutnya dipicu oleh Seoul dan Washington.

Hubungan antar-Korea telah memburuk ke titik terendah pada tahun ini. Peluncuran satelit mata-mata Pyongyang mendorong Seoul untuk menunda sebagian perjanjian militer 2018 yang bertujuan meredakan ketegangan di semenanjung tersebut.

“Saya percaya bahwa merupakan sebuah kesalahan jika kita tidak lagi menganggap orang-orang yang menyatakan kita sebagai ‘musuh utama’… sebagai lawan rekonsiliasi dan unifikasi,” KCNA mengutip pernyataan Kim.

Kim memerintahkan penyusunan langkah-langkah untuk mengatur ulang departemen-departemen yang menangani urusan lintas batas, untuk “secara mendasar mengubah arah.”

Pyongyang mendeklarasikan dirinya sebagai negara dengan kekuatan nuklir yang “tidak dapat diubah” pada tahun lalu dan telah berulang kali menyatakan bahwa pihaknya tidak akan pernah menghentikan program nuklirnya, yang dianggap penting oleh rezim tersebut untuk kelangsungan hidupnya.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi sejumlah resolusi yang menyerukan Korea Utara untuk menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya sejak negara tersebut pertama kali melakukan uji coba nuklir pada 2006. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com