Komandan Garda Revolusi Iran dan Hizbullah Bantu Arahkan Serangan Houthi di Yaman

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guards Corps/IRGC) Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon diyakini berada di Yaman untuk membantu mengarahkan dan mengawasi serangan Houthi terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, kata empat sumber regional dan dua sumber Iran kepada Reuters.

Menurut empat sumber regional itu, Iran meningkatkan pasokan senjatanya kepada milisi tersebut setelah perang di Gaza, yang meletus setelah Hamas yang didukung Iran menyerang Israel pada 7 Oktober. Iran memasok senjata, melatih sekaligus mendanai kelompok Houthi.

Teheran memasok perangkat pesawat nirawak canggih, rudal jelajah antikapal, rudal balistik presisi dan rudal jarak menengah kepada Houthi. Kelompok tersebut mulai menargetkan kapal-kapal komersial pada November sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza, kata sumber tersebut.

Para komandan dan penasihat IRGC juga turun tangan melalui keahlian mereka, data, dan dukungan intelijen untuk menentukan kapal mana yang setiap harinya melintasi Laut Merah menuju Israel dan dianggap sebagai target oleh Houthi, demikian dikatakan oleh semua sumber

Anggota Houthi dalam protes terhadap serangan pimpinan AS baru-baru ini terhadap sasaran Houthi, dekat Sanaa, Yaman, 14 Januari 2024. (Foto: Reuters)

Washington mengatakan pada bulan lalu bahwa Iran sangat terlibat dalam perencanaan operasi terhadap kapal-kapal di Laut Merah. AS menggarisbawahi bahwa campur tangan intelijen mereka sangat penting untuk memungkinkan Houthi menargetkan sejumlah kapal.

Menanggapi permintaan komentar atas berita ini, Gedung Putih merujuk pada komentar publik sebelumnya tentang bagaimana Iran mendukung Houthi.

Dalam konferensi pers mingguannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani berulang kali membantah Teheran terlibat dalam serangan Laut Merah yang dilakukan kelompok Houthi. Kantor hubungan masyarakat IRGC tidak menanggapi permintaan komentar.

Juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam membantah keterlibatan Iran atau Hizbullah dalam membantu mengarahkan serangan Laut Merah. Sementara itu, juru bicara Hizbullah tidak menanggapi permintaan komentar yang disampaikan oleh Reuters.

Kelompok Houthi muncul pada 1980-an sebagai kelompok bersenjata yang menentang pengaruh agama Sunni Arab Saudi di Yaman. Mereka menegaskan dukungannya terhadap Hamas dengan menyerang kapal-kapal komersial yang mereka katakan terkait dengan Israel atau sedang menuju pelabuhan Israel.

Serangan mereka mempengaruhi pelayaran global antara Asia dan Eropa melalui Selat Bab al-Mandab di lepas pantai Yaman. Hal ini telah memicu serangan udara AS dan Inggris terhadap sasaran-sasaran Houthi di negara tersebut, membuka medan konflik baru yang terkait dengan perang di Gaza.

“Garda Revolusi membantu Houthi dengan pelatihan militer (menggunakan senjata canggih),” kata orang dalam Iran kepada Reuters. “Sekelompok pasukan Houthi berada di Iran pada bulan lalu dan dilatih di pangkalan IRGC di Iran tengah untuk mengenal teknologi baru dan penggunaan rudal.”

Orang tersebut mengatakan bahwa para komandan Iran juga telah melakukan perjalanan ke Yaman dan mendirikan pusat komando di ibu kota Yaman, Sanaa terkait rencana serangan Laut Merah yang dijalankan oleh komandan senior IRGC yang bertanggung jawab atas Yaman.

Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah dalam foto yang dirilis 20 November 2023. (Foto: via Reuters)

Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah dalam foto yang dirilis 20 November 2023. (Foto: via Reuters)

Strategi Regional

Serangan di Laut Merah selaras dengan strategi Iran untuk memperluas dan memobilisasi jaringan milisi bersenjata Syiah regional untuk memproyeksikan pengaruhnya dan menunjukkan kemampuannya mengancam keamanan maritim di wilayah tersebut dan sekitarnya, menurut dua analis.

Mereka mengatakan Teheran ingin menunjukkan bahwa perang di Gaza bisa menimbulkan kerugian besar bagi negara-negara Barat jika terus berlanjut. Perang tersebut bahkan bisa menimbulkan konsekuensi bencana di wilayah itu jika keadaan semakin memburuk.

“Houthi tidak bertindak secara independen,” kata Abdulaziz al-Sager, direktur lembaga kajian Pusat Penelitian Teluk. Ia mengambil kesimpulan dengan merujuk pada analisis mendalam terhadap kemampuan kelompok tersebut, yang diperkirakan memiliki 20.000 anggota.

“Houthi, dengan personel, keahlian dan kemampuan mereka tidak begitu maju. Belasan kapal melintasi Bab al-Mandab setiap hari, Houthi tidak memiliki sarana, sumber daya, pengetahuan atau informasi satelit untuk menemukan target dan serangan spesifik,” kata dia.

Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih Adrienne Watson juga mengatakan pada bulan lalu bahwa intelijen taktis yang diberikan Iran sangat penting dalam memungkinkan Houthi menargetkan sejumlah kapal.

Menurut dua sumber mantan tentara Yaman, jelas terdapat kehadiran anggota IRGC dan Hizbullah di Yaman. Mereka bertanggung jawab untuk mengawasi operasi militer, melatih dan merakit kembali rudal-rudal yang diselundupkan ke Yaman sebagai bagian yang terpisah, kata kedua orang tersebut.

Abdulghani Al-Iryani, peneliti senior di Sana’a Center for Strategic Studies, sebuah wadah pemikir independen, mengatakan: “Jelas sekali Iran membantu mengidentifikasi target dan tujuannya. Tidak ada kapasitas lokal Houthi “untuk dapat melakukannya.”

Salah satu sumber senior regional yang mengikuti masalah Iran dan berbicara tanpa menyebut nama mengatakan: “Keputusan politik ada di Teheran, manajemennya adalah Hizbullah, dan lokasinya adalah Houthi di Yaman.”

Sebuah ledakan terjadi setelah serangan di tengah serangan pimpinan AS terhadap sasaran Houthi di Dhamar, Yaman, dalam tangkapan layar dari video yang dirilis pada 18 Januari 2024. (Foto: Reuters)

Sebuah ledakan terjadi setelah serangan di tengah serangan pimpinan AS terhadap sasaran Houthi di Dhamar, Yaman, dalam tangkapan layar dari video yang dirilis pada 18 Januari 2024. (Foto: Reuters)

Seorang pemimpin dalam koalisi kelompok pro-Iran membantah keberadaan komandan IRGC atau Hizbullah yang disebut berada di Yaman pada saat ini.

Dia mengatakan tim ahli militer Iran dan Hizbullah pergi ke Yaman pada awal perang saudara untuk melatih, melengkapi dan membangun kemampuan militer Houthi.

“Mereka datang dan membantu Houthi lalu pergi, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Hizbullah dan Hamas,” katanya, seraya menambahkan bahwa kemampuan militer Houthi tidak boleh diremehkan.

Orang tersebut mengatakan bahwa Houthi mengetahui medan dan laut dengan baik dan sudah memiliki sistem untuk menyerang kapal, termasuk peralatan presisi tinggi dari Iran.

Usai pemberontakan Musim Semi Arab 2011 di Yaman, kelompok Houthi memperketat cengkeraman mereka di bagian utara negara itu dan merebut Sanaa pada 2014. Mereka mendorong koalisi pimpinan Saudi untuk melakukan intervensi militer beberapa bulan kemudian. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com