Kelompok Etnis Bersenjata Myanmar Klaim Rebut Sejumlah Kota di Utara

Aliansi etnis bersenjata di Myanmar pada Sabtu (6/1) mengklaim berhasil merebut sejumlah kota di bagian utara yang dikenal sebagai pusat penipuan online. Hal tersebut merupakan pukulan bagi junta militer yang menguasai negara itu.

Rezim militer mengalami ancaman terbesar terhadap kekuasaannya sejak mengambil alih dalam kudeta 2021, menyusul serangan dari tiga kelompok etnis bersenjata yang dikenal sebagai Aliansi Persaudaraan. Mereka melakukan serangan besar-besaran pada Oktober di negara bagian Shan utara.

Selama berbulan-bulan, masyarakat meninggalkan Kota Laukkai, distrik yang berbatasan dengan China yang dijalankan oleh milisi yang bekerja sama dengan militer. Kota itu terkenal dengan aktivitas perjudian, prostitusi, dan penipuan online.

Aliansi Persaudaraan – yang terdiri dari Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), Tentara Arakan (AA) dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) – mengatakan kota itu kini berada di bawah kendali mereka.

“Seluruh anggota Komando Operasi Militer Angkatan Darat Myanmar di Laukkai dilucuti dan Laukkai menjadi wilayah bersih di mana tidak ada lagi anggota Angkatan Darat Myanmar,” kata aliansi tersebut dalam pernyataannya.

Pernyataan itu menambahkan bahwa sejumlah tentara junta, termasuk beberapa perwira, berhasil ditangkap dan dilucuti senjatanya.

Junta belum berkomentar atas klaim tersebut.

Laukkai adalah kota terbaru yang jatuh ke dalam aliansi tersebut dan juga merupakan pusat perbatasan penting, sehingga dapat mengganggu perdagangan dengan China bagi junta yang kekurangan uang.

Pada akhir bulan lalu, Beijing meminta warganya untuk meninggalkan wilayah yang diperebutkan tersebut, dengan alasan meningkatnya risiko keamanan.

Meskipun Beijing adalah pemasok senjata utama dan sekutu junta, hubungan keduanya memanas dalam beberapa bulan terakhir karena kegagalan junta dalam menindak situs penipuan online di Myanmar. China mengklaim situs tersebut menargetkan warga negaranya.

Para analis mengatakan China memelihara hubungan dengan kelompok etnis bersenjata di Myanmar utara. Beberapa di antara kelompok tersebut bahkan memiliki hubungan etnis dan budaya yang dekat dengan China dan menggunakan mata uang serta jaringan telepon China di wilayah yang mereka kuasai. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com