Kebakaran Hutan Melanda, Kolombia Tetapkan Status Darurat Bencana

Pemerintah Kolombia pada Kamis (25/1) mengeluarkan deklarasi bencana dan meminta bantuan internasional, terkait puluhan kebakaran hutan yang melanda negara tersebut.

“Kami ingin memastikan bahwa kami memiliki kapasitas fisik untuk mengatasi dan memitigasi [krisis ini],” kata Presiden Kolombia, Gustavo Petro.

Chile, Peru, Kanada, dan Amerika Serikat telah menanggapi permintaan itu, meskipun jangka waktu pemberian bantuan belum jelas.

Kebakaran telah menghancurkan lebih dari 6.600 hektar vegetasi hutan, menurut Badan Manajemen Risiko Bencana Nasional Kolombia.

Para pejabat mengatakan, terdapat 31 titik api aktif dan hanya sembilan yang berhasil dikendalikan. Dengan menetapkan status bencana, pemerintah mempunyai peluang lebih besar dalam mengalokasikan dana untuk pemadaman kebakaran. Hampir setengah dari anggaran negara sebesar $508 juta untuk melawan masalah seperti kebakaran hutan, telah terpakai habis.

Tingginya jumlah kebakaran menimbulkan kecemasan bagi kota-kota yang mungkin tidak memiliki kapasitas pemadaman kebakaran. Menurut Institut Hidrologi, Meteorologi dan Studi Lingkungan Kolombia, hampir separuh kota berada dalam siaga maksimum terhadap risiko kebakaran. Menurut Departemen Pemadam Kebakaran Nasional Kolombia, sekitar sepertiga dari kota-kota tersebut tidak memiliki pemadam kebakaran.

Lebih dari 600 tentara, bersama dengan pesawat dan kendaraan, dikerahkan ke daerah darurat. Polisi Kolombia mengangkut dan menyemprotkan air ke api, menggunakan pesawat untuk menyemprot bahan kimia ke tanaman daun koka.

Kualitas udara telah memburuk di sejumlah area, terutama di wilayah ibu kota, Bogota, di mana setidaknya tiga titik kebakaran mengelilingi kota tersebut.

Air quality has deteriorated in many areas — particularly in Bogota, the capital, where at least three fires surround the city.

Lebih dari 200 kebakaran telah berhasil dipadamkan bulan ini di Kolombia, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan badan bencana. [ps/rs]

Sejumlah informasi dalam laporan ini berasal dari The Associated Press, Reuters dan Agence France-Presse.

Sumber: www.voaindonesia.com