Kandidat Capres AS Pesaing Trump, Ron DeSantis, Mundur dari Pencalonan

Kandidat calon presiden AS dari Partai Republik Ron DeSantis, yang sempat dianggap sebagai kandidat terbaik partainya untuk mengalahkan Donald Trump, mengundurkan diri dari pemilihan pendahuluan pada hari Minggu (21/1). Pengunduran dirinya yang relatif awal semakin menegaskan cengkeraman kuat mantan Presiden AS Donald Trump, yang sama-sama menjadi kandidat capres, pada Partai Republik.

Melalui video yang diunggah ke X, yang sebelumnya Twitter, DeSantis, yang berusia 45 tahun, lantas mengalihkan dukungannya kepada Trump.

Sebelumnya, banyak pihak menilai DeSantis adalah pesaing utama untuk mendapatkan tiket capres dari Partai Republik dalam pemilu 2024. Ia juga dianggap sebagai penerus Trump berkat gayanya yang agresif dan pandangannya yang sangat konservatif. Pada awal 2023, namanya unggul di sejumlah jajak pendapat yang mengadu namanya dengan Trump.

Namun, dukungan bagi gubernur Florida itu menurun beberapa bulan terakhir, karena strategi kampanye yang buruk, ketidakluwesannya dengan pemilih saat berkampanye dan cengkeraman kuat Trump pada basis pemilih Partai Republik.

Haley Jadi Kandidat Terakhir yang Menantang Trump

Dengan mundurnya DeSantis, mantan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley kini menjadi kandidat capres terakhir dari Partai Republik yang masih berpeluang – meski sangat kecil – untuk menjegal Trump. Pemenang pemilihan pendahuluan dari Partai Republik akan menghadapi capres petahana, Joe Biden, yang kemungkinan besar akan diusung Partai Demokrat, pada pemilihan umum November mendatang.

Kandidat Capres Partai Republik, Nikki Haley

Menurut sebagian besar jajak pendapat di AS, lebih dari 70% pendukung Partai Republik memiliki pandangan yang baik soal Trump. Hal itu membuat DeSantis sedianya dapat menarik perhatian pemilih yang menyukai Trump dan juga mereka yang sangat tidak menyukainya.

Tapi DeSantis gagal memperoleh keduanya. Ia tidak pernah berhasil menjelaskan kepada sebagian besar pendukung Trump mengapa dirinya adalah opsi yang lebih baik, sementara suara pendukung Partai Republik yang ingin menyingkirkan Trump justru terpecah ke berbagai kandidat.

Setelah masa konsolidasi, Haley belakangan muncul sebagai kandidat favorit di kalangan moderat Partai Republik.

DeSantis Lebih Konservatif dibanding Trump

Yang membedakan DeSantis dari Trump adalah ia selalu mengambil posisi yang lebih konservatif dalam hal kebijakan. DeSantis mengesahkan larangan aborsi bagi janin yang sudah berusia enam minggu di negara bagian Florida pada April lalu, yang kemudian ia gaungkan juga dalam kampanye, meskipun hal itu membuat khawatir Partai Republik dan para donatur kampanyenya.

DeSantis menentang bantuan militer tambahan bagi Ukraina dan mengambil langkah hukum terhadap Walt Disney Co. karena perusahaan itu menentang undang-undang Florida yang membatasi diskusi mengenai isu gender dan seksualitas di sekolah.

Perselisihannya dengan Disney lantas dikritik oleh pejabat partainya yang pro-bisnis.

Meskipun banyak donor besar yang menyatakan dukungan kepada DeSantis sejak awal, mereka mulai memberontak awal musim panas lalu.

Robert Bigelow, yang memberikan suntikan dana jutaan dolar kepada kelompok penggalangan dana super PAC yang mendukung DeSantis, bulan Agustus lalu mengatakan kepada Reuters bahwa ia memotong dana yang diberikannya karena sikap DeSantis yang tidak kenal kompromi terhadap aborsi. [rd/em]

Sumber: www.voaindonesia.com