Jelang Kunjungan Blinken, Rombongan Migran dari Amerika Tengah Bergerak ke AS Melalui Meksiko

Rombongan migran dari Amerika Tengah, Venezuela, Kuba dan negara-negara lain pada hari Minggu (24/12) berjalan kaki melalui Meksiko menuju perbatasan Amerika Serikat.

Prosesi itu dilakukan hanya beberapa hari sebelum Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tiba di Mexico City untuk membuat kesepakatan baru guna mengendalikan lonjakan migran yang berusaha masuk ke Amerika Serikat.

Rombongan migran yang diperkirakan berjumlah sekitar 6.000 orang, yang banyak di antaranya adalah keluarga dengan anak-anak kecil, adalah yang terbesar dalam lebih dari satu tahun terakhir. Ini merupakan indikasi yang jelas bahwa upaya bersama oleh pemerintahan Biden dan pemerintahan Presiden Andrés Manuel López Obrador untuk mencegah migrasi gagal.

Rombongan yang berjalan kaki saat Malam Natal itu berangkat dari kota Tapachula, dekat perbatasan selatan Meksiko dengan Guatemala.

Aparat keamanan tampak mengulangi taktik masa lalu ketika pihak berwenang menunggu rombongan yang kelelahan, dan kemudian menawarkan kepada mereka suatu bentuk status hukum sementara yang digunakan banyak orang untuk melanjutkan perjalanan ke utara.

López Obrador pada bulan Mei lalu setuju untuk menerima para migran dari negara-negara seperti Venezuela, Nikaragua, dan Kuba yang ditolak oleh Amerika Serikat karena tidak mengikuti peraturan yang memberikan jalur hukum baru, untuk mendapatkan suaka dan bentuk-bentuk migrasi lainnya.

Namun kesepakatan yang bertujuan untuk mengekang lonjakan migrasi pasca pandemi itu tampaknya tidak cukup efektif karena jumlah migran kembali melonjak, mengganggu perdagangan bilateral dan memicu sentimen anti-migran di kalangan pemilih konservatif di Amerika Serikat.

Pada bulan Desember ini saja sedikitnya 10.000 migran ditangkap setiap hari di perbatasan barat daya Amerika.

Sementara itu Badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS (CBP) telah menangguhkan perjalanan kereta api lintas perbatasan di kota-kota Texas, Eagle Pass dan El Paso, karena banyaknya migran yang ikut naik di atap-atap gerbong kereta api itu.

Dalam dua tahun fiskal terakhir pemerintah AS, lebih dari dua juta orang telah ditangkap karena menyebrangi perbatasan secara ilegal. Hal tersebut mencerminkan perubahan teknologi yang memudahkan para migran meninggalkan tempat tinggal mereka untuk keluar dari kemiskinan, penindasan politik, dan kejahatan terorganisir. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com