Jalur Gaza Tengah Digempur, Warga Pergi dari Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa

Dalam sebuah video yang direkam seorang staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tampak sejumlah besar warga Gaza yang terluka tengah memperoleh perawatan darurat di Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa, menyusul serangan udara besar-besaran Israel di Gaza tengah, lokasi di mana rumah sakit itu berada. Menurut keterangan para saksi mata pada Senin (8/1), petugas medis, pasien dan pengungsi melarikan diri dari fasilitas tersebut ketika pertempuran antara pasukan militer Israel dan militan Palestina semakin mendekat ke area rumah sakit.

Kerusakan rumah sakit Syuhada al-Aqsa akan menjadi pukulan besar bagi sistem kesehatan di Palestina, yang rusak akibat perang selama tiga bulan itu. Baru-baru ini, organisasi-organisasi kemanusiaan, termasuk Doctors Without Borders (Dokter Lintas Batas), menarik diri dari rumah sakit yang berlokasi di Deir al-Balah itu dengan alasan situasinya terlalu berbahaya.

Kondisi itu membuat orang-orang yang berlindung di rumah sakit pun panik, sehingga sebagian besar dari mereka memutuskan untuk ikut melarikan diri ke wilayah Gaza selatan. Laporan WHO menunjukkan bahwa hanya lima dokter yang masih bertahan di fasilitas itu, dan tim manajemen rumah sakit mengatakan para petugas kesehatan telah kehabisan makanan.

Warga Palestina yang terluka dalam serangan Israel terbaring di Rumah Sakit Shuhada Al-Aqsa yang juga jadi tempat pengungsi berlindung, di tengah konflik antara Israel dan Hamas, di Deir Al-Balah Jalur Gaza tengah, 3 Januari 2024.

“Pasien datang setiap beberapa menit. Ini benar-benar pemandangan yang kacau. Direktur rumah sakit (ini) baru saja berbicara kepada kami. Dia menyampaikan satu permintaan, agar rumah sakit ini dilindungi, meskipun banyak stafnya yang sudah pergi, dan meskipun rumah sakit ini berada di bawah tekanan yang sangat besar. Satu permintaan (lagi) yang disampaikan oleh direktur rumah sakit ini adalah masyarakat dunia perlu memastikan bahwa rumah sakit ini dan rumah sakit lainnya tetap terlindungi, tidak diserang, tidak dievakuasi, dan terus berfungsi. Itulah pesan penting hari ini,” papar Sean Casey, Koordinator Tim Medis Darurat WHO.

Omar al-Darawi, seorang petugas Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa, mengatakan fasilitas tersebut telah diserang beberapa kali dalam beberapa hari terakhir. Ia juga menyaksikan ribuan orang meninggalkan rumah sakit itu setelah organisasi-organisasi kemanusiaan menarik diri dari sana, dan lokasi perawatan pasien dipusatkan di satu lantai sehingga dokter yang tersisa bisa lebih mudah merawat mereka.

Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan pada Senin (8/1) pagi bahwa sudah ada 73 jenazah dan 99 orang terluka dibawa ke Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa dalam 24 jam terakhir.

Situasi di Gaza utara bahkan lebih mengerikan, di mana pasukan militer Israel mengisolasi wilayah itu sejak akhir Oktober 2023. Seluruh wilayah berpenduduk telah dihancurkan, dan ratusan ribu orang telah mengungsi, sementara mereka yang masih tinggal di sana menghadapi krisis makanan, air, dan pasokan medis.

WHO menyampaikan pada Minggu (7/1) malam bahwa pihaknya belum dapat mengirimkan pasokan bantuan ke Gaza utara dalam 12 hari terakhir. “Pemboman besar-besaran, pembatasan pergerakan, dan gangguan komunikasi membuat kami kesulitan untuk mengirimkan pasokan medis secara teratur dan aman ke seluruh Gaza, khususnya di wilayah utara,” tambah mereka.

Sejumlah rumah sakit di Gaza menjadi tempat berlindung bagi puluhan ribu warga di sana. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA), kini hanya 13 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi—itu pun berfungsi sebagian.

Lebih dari 22.800 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 58.000 lainnya terluka sejak perang dimulai, berdasarkan pernyataan Kementerian Kesehatan di Gaza yang dioperasikan Hamas. Jumlah korban tewas tersebut tidak membedakan antara pasukan perang dan warga sipil.

Sementara itu, Raja Yordania, Abdullah, dalam pidato sambutannya di Tugu Peringatan Genosida Kigali saat berkunjung ke Rwanda, Afrika Timur, sempat menyinggung soal nasib para korban perang di Gaza pada Senin (8/1).

“Berapa kali kita telah mengatakan ‘tidak akan pernah lagi’, hanya untuk kembali menghadapi konflik lain yang berakar dari kebencian dan ketidakmanusiaan. Hampir 30.000 warga Gaza telah terbunuh atau hilang selama tiga bulan terakhir, mayoritasnya—hampir 70%—adalah perempuan dan anak-anak. Lebih banyak anak yang meninggal di Gaza dibandingkan di wilayah-wilayah konflik lain di seluruh dunia, dalam satu tahun terakhir. Dari mereka yang selamat, banyak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. (Mereka) menjadi generasi anak yatim piatu,” ujar Raja Abdullah.

Menurut pernyataan pihak Kerajaan Yordania, Raja Abdullah pada Minggu (7/1) telah memperingatkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tentang “dampak bencana” dari kelanjutan serangan militer Israel di Gaza dalam kunjungan Blinken ke Amman. Ia juga menyampaikan kepada Blinken bahwa Washington memiliki peran besar dalam menekan Israel untuk segera menyetujui gencatan senjata di Gaza. [br/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com