Isu Aborsi Jadi Salah Satu Topik Utama dalam Pilpres AS

Suasana pilpres Amerika Serikat semakin memanas. Para kandidat mencoba membawa isu aborsi sebagai salah satu topik utama.

Pada peringatan 51 tahun keputusan Roe v. Wade yang membuat aturan federal terkait perlindungan hak untuk melakukan aborsi, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris mengunjungi Wisconsin untuk menonjolkan dukungan pemerintahan Biden terhadap akses layanan reproduksi secara penuh, termasuk aborsi.

“Di Amerika, kebebasan bukan hal yang diberikan. Bukan hal yang dilimpahkan. Itu adalah hak milik kita. Termasuk kebebasan bagi seseorang membuat keputusan untuk tubuhnya sendiri, bukan pemerintah yang menyuruh apa yang harus Anda lakukan,” ujar Harris.

Presiden Joe Biden, seorang Katolik yang taat seumur hidupnya, sebelumnya sempat menyatakan keberatannya akan aborsi.

Namun, pada Senin (01/22) lalu, Biden mengatakan keputusan Mahkamah Agung pada tahun 2022, yang membatalkan keputusan Roe v. Wade dan menyerahkan persoalan aborsi ke masing-masing negara bagian, tidak adil.

Menurutnya, sejak keputusan MA tersebut, para pemilih di berbagai negara bagian telah berulang kali memilih untuk mempertahankan akses aborsi.

“Para pemilih telah memberikan suara mereka untuk melindungi hak-hak reproduksi. Kita perlu perlindungan ini di setiap negara bagian, karena akses layanan kesehatan untuk keluarga Anda tidak seharusnya bergantung kepada kode pos (wilayah) Anda,” sebut Biden.

Sementara itu, para kandidat dari Partai Republik berbicara tentang kemungkinan larangan aborsi federal. Keputusan akan isu sensitif ini pun jatuh ke tangan para pemilih Amerika.

Para aktivis anti-aborsi berpartisipasi dalam “March for Life” di depan Mahkamah Agung AS pada 19 Januari 2024, di Washington DC.

Para pendukung calon presiden dari Partai Republik saat ini, Donald Trump, mengatakan bahwa Trump menentang aborsi, namun sikapnya belum jelas dan berubah-ubah.

Situs kampanye milik Trump tidak membahas persoalan ini. Permintaan tanggapan akan hal ini juga tidak mendapat balasan langsung.

Selain itu, Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson, menyampaikan pendapat pribadinya yang menentang aborsi dalam aksi anti-aborsi di Washington baru-baru ini.

Dia mengatakan bahwa dirinya merupakan hasil kelahiran dari kehamilan remaja yang tidak direncanakan.

“Kami meloloskan rancangan undang-undang ini, dan kami beraksi hari ini karena perlu banyak upaya untuk meyakinkan orang, bahwa setiap anak manusia, setiap anak yang belum lahir, memiliki nilai yang terlalu besar dan berharga untuk diabaikan begitu saja. Kita punya banyak alasan untuk optimis, kita bisa mengubah opini publik,” sebut Johnson.

Para aktivis yang menentang aborsi mengatakan mereka senang bahwa Mahkamah Agung menyerahkan keputusan tersebut ke masing-masing negara bagian.

Tetapi sekarang, mereka harus memutuskan pemimpin mana yang akan membawa isu tersebut ke depan.

Eric Shceidler, salah seorang aktivis yang ikut serta dalam aksi di Washington, mengatakan Biden “terlalu ekstrem” dalam dukungannya terhadap akses aborsi, tetapi dia juga mengatakan tidak ada calon dari Partai Republik yang sesuai dengan sudut pandangnya.

“Saya juga tidak tahu apa saya bisa mempercayai Donald Trump. Dia menempatkan hakim-hakim Mahkamah Agung yang membatalkan Roe. Sejak pembatalan itu, dia telah mengatakan beberapa hal kritis terhadap gerakan pro-kehidupan dan mengkritik kebijakan DeSantis di Florida. Saya tidak tahu pasti sikap Trump, karena dia seperti berbicara dari kedua sisi mulutnya tentang masalah ini. Jadi saya menahan diri untuk menilai Haley dan Trump, karena saya khawatir akan sikap mereka,” ujarnya.

Hak atas aborsi telah memenangkan jajak pendapat di berbagai negara bagian, mulai dari California yang liberal hingga Kansas yang konservatif.

Hasil terbaru dari negara bagian Ohio, yang menjadi kunci swing state (di mana kekuatan kedua partai seimbang), menyebut 57% pemilih setuju amandemen konstitusi untuk memastikan akses terhadap aborsi pada akhir tahun lalu.

Para pemilih Amerika akan memberikan suara mereka pada bulan November mendatang. [ti/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com