Israel Serukan Pembubaran UNRWA

Kongres Amerika Serikat (AS) pada minggu ini mengadakan sesi dengar pendapat mengenai apakah Washington harus secara permanen menghentikan pendanaan untuk UNRWA, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB yang bertugas membantu 1,5 juta warga Palestina yang ditetapkan sebagai pengungsi di Gaza.

Beberapa donor besar, termasuk AS, telah menangguhkan pendanaan untuk UNRWA sebagai tanggapan atas pengungkapan Israel baru-baru ini bahwa staf UNRWA secara aktif berpartisipasi dalam pembantaian Hamas di Israel pada tanggal 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

Israel telah menunjukkan bukti tindakan yang dilakukan oleh sedikitnya 12 staf UNRWA, termasuk penculikan seorang perempuan Israel dan berpartisipasi dalam pembantaian di kibbutz. Selain itu, sekitar 10% pegawai UNRWA di Gaza memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok militan Islamis dan 50% memiliki kerabat dekat yang tergabung dalam kelompok-kelompok tersebut, menurut UN Watch, kelompok pengawas yang menyampaikan bukti-bukti ke komite Kongres AS.

Pekerja UNRWA mengangkut kotak bantuan kemanusiaan di kompleks kantor lapangan UNRWA di Tepi Barat, di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. (Foto: Reuters)

“Kami merilis laporan baru berjudul “Terorgram UNRWA” di mana kami memaparkan grup percakapan Telegram yang terdiri dari 3000 guru UNRWA di Gaza. Tujuan dari grup tersebut adalah untuk bertukar informasi bagi para guru UNRWA. Namun, di antara 249.000 pesan yang kami unduh sebelum dihapus, ada pesan-pesan yang berulang kali merayakan terorisme pada tanggal 7 Oktober dan setelahnya,” kata Hillel Neuer, Direktur Eksekutif UN Watch.

UNRWA memiliki 13.000 staf di Gaza, sebagian besar dari mereka adalah guru di sekolah-sekolah UNRWA. Menanggapi tuduhan Israel, badan tersebut mengatakan telah memecat sembilan orang dan akan terus melakukan penyelidikan.

Namun beberapa analis Israel mengatakan masalah UNRWA lebih dari sekedar krisis saat ini. Mereka mengatakan bahwa UNRWA telah melanggengkan status warga Palestina sebagai pengungsi karena alasan politik, daripada memukimkan mereka seperti pengungsi dari konflik-konflik lain.

“UNRWA dimulai sebagai sebuah badan sementara dengan niat baik, untuk menampung para pengungsi Arab dari perang tahun ’47, ’48, ’49. Puluhan juta pengungsi menetap pada saat itu, dari pasca perang kekaisaran. Tidak satu pun dari mereka atau ratusan juta keturunan mereka saat ini disebut sebagai pengungsi. Mereka meninggalkan tempat lama dan pindah ke pergi lain untuk membangun kehidupan baru. Tidak demikian dengan warga Palestina,” kata Einat Wilf, mantan anggota Knesset Israel yang ikut menulis buku tentang UNRWA.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan bukti-bukti untuk tuduhan Israel terhadap UNRWA “sangat, sangat kredibel.” Namun ia juga mengatakan bahwa UNRWA memainkan peran penting dalam mendistribusikan bantuan yang dibutuhkan di Gaza. Para pejabat Palestina mengatakan penghentian dana UNRWA akan menjadi hukuman kolektif dan membuat situasi kemanusiaan yang sulit selama perang di Gaza menjadi lebih buruk.

“Langkah yang diambil secara bersamaan selama perang di Gaza ini mengirimkan pesan yang salah. Ada perang melawan rakyat Palestina. Keputusan ini tidak tepat dan harus segera dihentikan. Kami mendesak semua negara untuk mendanai kembali UNRWA karena ini adalah masalah kemanusiaan,” kata Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Otoritas Palestina.

Warga Palestina khawatir jika UNRWA tidak dapat beroperasi di Gaza, lebih dari satu juta orang yang berlindung di sekolah-sekolah UNRWA akan mengalami krisis kemanusiaan yang lebih besar. [lt/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com