Israel Harus Kendalikan Perbatasan Gaza dengan Mesir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertekad untuk mengambil kembali kendali perbatasan Jalur Gaza dengan Mesir, memperluas misi Israel untuk menetralisir Hamas dalam konflik yang diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan.

“Perang sedang mencapai puncaknya,” kata Netanyahu kepada wartawan pada Sabtu (30/12) mengenai pertempuran sejak 7 Oktober ketika kelompok militan Palestina Hamas dan sekutunya menyusup ke Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 240 orang.

Ia mengatakan zona penyangga Koridor Philadelphi yang membentang di sepanjang perbatasan Gaza dengan Mesir harus berada di tangan Israel.

“Itu harus ditutup,” kata Netanyahu. “Jelas bahwa pengaturan lain apa pun tidak akan menjamin demiliterisasi yang kita inginkan.”

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut. Namun, langkah Israel seperti itu secara de facto tidak sejalan dengan langkah penarikan pasukannya dari Gaza pada 2005, menempatkan daerah kantong tersebut di bawah kendali eksklusif Israel setelah bertahun-tahun dipimpin oleh Hamas.

Komentar Netanyahu mengenai zona penyangga muncul ketika pasukan militer Israel terus melancarkan serangan yang berulang kali ditegaskan oleh perdana menteri akan berlangsung “berbulan-bulan lagi.”

Serangan Hamas yang mengejutkan pada Oktober mendorong Israel melancarkan serangan besar-besaran di Gaza, menyebabkan hampir 2,3 juta penduduknya mengungsi dan menewaskan sedikitnya 21.672 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan di Gaza. Sedikitnya 56.000 orang terluka dan ribuan lainnya dikhawatirkan tewas di bawah reruntuhan.

Warga dan petugas medis mengatakan pertempuran pada Sabtu (30/12) terfokus di al-Bureij, Nuseirat, Maghazi dan Khan Younis di Gaza tengah dan selatan.

Seorang pria Palestina mengevakuasi seorang gadis yang terluka dari lokasi serangan Israel di daerah Zawayda di Jalur Gaza tengah pada 30 Desember 2023. (Foto: AFP)

Media Hamas melaporkan pada Sabtu (30/12) bahwa Abdel-Fattah Maali, seorang anggota senior sayap bersenjata kelompok itu, tewas dalam serangan Israel di Gaza. Dikatakan Maali, yang berasal dari Tepi Barat, dibebaskan pada pertukaran tahanan 2011 dan diusir ke Gaza. Laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik kapan dia dibunuh.

Israel mengatakan 172 personel militernya tewas dalam pertempuran di Gaza.

Konflik tersebut memicu kekhawatiran dapat mendorong perang menyebar ke seluruh kawasan, dan berpotensi melibatkan kelompok-kelompok yang didukung Iran di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman yang saling baku tembak dengan Israel dan sekutunya AS, atau menargetkan pengiriman barang dagangan.

Israel membeberkan kemajuannya dalam menghancurkan infrastruktur Hamas, termasuk kompleks terowongan di ruang bawah tanah yang terdapat pada salah satu rumah pemimpin Hamas untuk Gaza, Yahya Sinwar, di Kota Gaza. Pasukan Israel juga menyerbu markas intelijen militer Hamas dan pusat komando Jihad Islam di Khan Younis, dan menghancurkan sasaran termasuk pabrik senjata, kata pernyataan militer.

Hamas dan Jihad Islam – keduanya bertekad menghancurkan Israel – mengeluarkan pernyataan yang mengatakan pejuang mereka menghancurkan dan merusak beberapa tank dan pengangkut pasukan Israel dalam serangan di Gaza pada Sabtu. Mereka juga mengatakan mereka menembakkan mortir terhadap pasukan Israel di Khan Younis dan Al-Bureij serta di Gaza utara.

Washington menekan Israel, yang sejauh ini tidak berhasil, untuk mengurangi perang dengan melakukan operasi yang ditargetkan terhadap para pemimpin Hamas, dan mengakhiri apa yang digambarkan oleh Presiden Joe Biden sebagai “penembakan tanpa pandang bulu.” Israel bertekad menghancurkan Hamas, dan mengatakan kelompok militan tersebut membahayakan warga sipil dengan menggunakan mereka sebagai tameng manusia. Hamas membantah tudingan tersebut. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com