Inflasi Desember 2023 Jauh Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan inflasi pada Desember 2023 mencapai 0,41 persen lebih besar dibandingkan pada November 2023 yakni 0,38 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun pada Desember 2023 mencapai 2,61 persen, jauh lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama pada 2022 yang mencapai 5,51 persen.

“Di luar periode terdampak pandemi yakni tahun 2020 dan 2021, inflasi tahun 2023 merupakan inflasi terendah dalam 20 tahun terakhir,” ujar Amalia di Jakarta, Selasa (2/1/2024).

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa 22 Desember 2020. (foto: VOA/Anugrah)

Amalia menambahkan penyumbang utama inflasi pada Desember 2023 secara tahunan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, di antaranya berasal dari komoditas beras, cabai merah, dan rokok kretek filter.

Data BPS juga menunjukkan inflasi tahunan terjadi di seluruh atau 90 kota yang disurvei BPS. Adapun kota yang mengalami inflasi paling tinggi yaitu Sumenep (5,08 persen) dan paling rendah Bandung (0,63 persen).

“Terdapat 50 kota mengalami inflasi tahunan lebih tinggi dari inflasi nasional. Capaian ini cukup baik jika kita bandingkan dengan kondisi 2022, karena sebelumnya terdapat 63 kota mengalami inflasi tahunan yang lebih tinggi daripada nasional,” tambahnya.

Contoh sejumlah botol yang berisi minyak mentah terlihat pada ilustrasi yang diambil pada 1 Juni 2017. (Foto: REUTERS/Thomas White)

Contoh sejumlah botol yang berisi minyak mentah terlihat pada ilustrasi yang diambil pada 1 Juni 2017. (Foto: REUTERS/Thomas White)

Selain itu, BPS juga menyoroti sejumlah peristiwa penting yang turut berpengaruh terhadap inflasi. Di antaranya penurunan harga minyak mentah di pasar internasional dalam beberapa bulan terakhir dan dampak El nino yang diprediksi hingga April 2024, serta penyesuaian BI rate.

“Pertamina beberapa kali telah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, menyesuaikan harga internasional. Tercatat BBM nonsubsidi 2023 lebih rendah dibandingkan (dengan harga pada) Desember 2022,” tambahnya.

Pengamat: Inflasi Rendah Bukan karena Keberhasilan Pemerintah

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai besaran inflasi yang lebih rendah dari tahun sebelumnya bukan karena keberhasilan pemerintah. Sebaliknya, kata dia, inflasi rendah tersebut dikarenakan lemahnya daya beli masyarakat dan dunia usaha.

Ini menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada kuartal ketiga dan keempat 2023 yang bisa memicu penurunan laju kredit perbankan. Lemahnya daya beli dapat berakibat pada penurunan belanja masyarakat yang juga dapat berdampak pada ekonomi. Selanjutnya karena belanja atau permintaan turun maka harga barang dan jasa tidak naik atau inflasi tidak terjadi.

“Saya kira ini harus diwaspadai ketika era suku bunga tinggi dan inflasi rendah, maka ekonomi akan melemah. Jadi, patut dikhawatirkan,” ujar Tauhid kepada VOA, Selasa (2/1/2024).

Tauhid menilai pemerintah juga mengatasi persoalan dalam sektor pangan yang memiliki andil terhadap inflasi, terutama produk hortikultura yang harganya bergejolak seperti cabai dan sayuran. Kata dia, pemerintah semestinya bisa mengantisipasi dampak cuaca terhadap tanaman hortikultura dengan memanfaatkan teknologi seperti dilakukan di negara-negara maju. Dengan kondisi seperti ini, Tauhid memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 akan berada di bawah 5 persen. [sm/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com