Dua Remaja Korea Utara Divonis Kerja Paksa 12 Tahun akibat Menonton Video K-pop

Rekaman video yang dirilis oleh sebuah organisasi yang bekerja dengan pembelot Korea Utara menunjukkan pihak berwenang Korea Utara secara terbuka memvonis dua remaja dengan hukuman kerja paksa selama 12 tahun karena menonton K-pop.

Rekaman yang dirilis oleh South and North Development (SAND) Institute tersebut menunjukkan dua remaja berusia 16 tahun di Pyongyang yang dihukum karena menonton film dan video musik Korea Selatan.

Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen rekaman tersebut, yang pertama kali dilaporkan oleh BBC tersebut.

Korea Utara selama bertahun-tahun telah menjatuhkan hukuman berat kepada siapa pun yang kedapatan menikmati hiburan Korea Selatan atau meniru cara orang Korea Selatan berbicara. Hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam perang melawan pengaruh luar sejak undang-undang “pemikiran anti-reaksioner” baru diberlakukan pada 2020.

Seorang model menunjukkan selembar prangko menandai peringatan 10 tahun debut band K-pop BTS di kantor pos di Seoul, Korea Selatan, Senin, 12 Juni 2023. (Foto: AP)

“Menilai dari hukumannya yang berat, sepertinya hal ini diperlihatkan kepada masyarakat di seluruh Korea Utara sebagai peringatan untuk mereka. Jika demikian, tampaknya gaya hidup budaya Korea Selatan ini lazim bagi masyarakat Korea Utara,” kata Choi Kyong-hui, Presiden SAND dan Doktor Ilmu Politik di Universitas Tokyo. Ia membelot dari Korea Utara pada 2001.

“Saya rasa video ini diedit sekitar 2022… Yang menyusahkan (pemimpin Korea Utara) Kim Jong Un adalah generasi muda Milenial dan Gen Z telah mengubah cara berpikir mereka. Saya pikir dia berupaya mengembalikannya kembali ke gaya ala Korea Utara.”

Video tersebut, yang dibuat oleh otoritas Korea Utara, menunjukkan sebuah pengadilan umum besar di mana dua siswa yang mengenakan pakaian seragam abu-abu diborgol sambil ditonton oleh 1.000 siswa di sebuah amfiteater. Semua siswa, termasuk kedua siswa berusia 16 tahun itu, mengenakan masker wajah, menunjukkan bahwa rekaman tersebut diambil saat pandemi COVID.

Para siswa itu dijatuhi hukuman, menurut video tersebut, setelah dinyatakan bersalah karena menonton dan menyebarkan film, musik, dan video musik Korea Selatan selama tiga bulan.

“Mereka tergoda oleh budaya asing… dan akhirnya menghancurkan hidup mereka,” kata narrator. Potongan video tersebut menampilkan gambar gadis-gadis muda yang diborgol dan perempuan Pyongyang yang mengenakan busana dan gaya rambut Korea Selatan.

Korea Utara yang tertutup dan Korea Selatan yang kaya dan demokratis secara teknis masih berperang setelah konflik mereka pada 1950-1953. Perang tersebut berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Kedua wilayah terbagi oleh zona demiliterisasi (DMZ) yang dijaga ketat. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com