Dongkrak Pariwisata, China Longgarkan Persyaratan Visa bagi Pleancong AS

China akan melonggarkan sejumlah pembatasan bagi warga Amerika Serikat (AS) yang mengunjungi negara itu. Langkat tersebut adalah upaya terbaru untuk menarik para pelancong asing sejak China membuka perbatasannya awal tahun 2023.

Mulai 1 Januari 2024, turis Amerika tidak perlu lagi menyerahkan bukti tiket pesawat pulang-pergi, bukti pemesanan hotel, rencana perjalanan atau undangan untuk ke China, menurut pengumuman yang dipasang daring di situs web Kedutaan Besar China di Washington.

Proses permohonan yang sudah disederhanakan itu bertujuan untuk “memfasilitasi pertukaran masyarakat antara China dan Amerika Serikat,” kata pernyataan tersebut.

Kebijakan itu diambil saat China sudah berjuang untuk meremajakan sektor pariwisatanya setelah tiga tahun menerapkan langkah-langkah pencegahan pandemi yang ketat, termasuk karantina wajib bagi semua pendatang. Meskipun pembatasan tersebut dicabut awal tahun ini, kedatangan wisatawan internasional masih lambat untuk kembali.

Pada paruh pertama 2023, China mencatat 8,4 juta orang asing masuk dan keluar, anjlok dari 977 juta orang sepanjang 2019, yang merupakan tahun terakhir sebelum pandemi, menurut statistik imigrasi.

Sejumlah turis asing mengunjungi Taman Yuyuan, salah satu tujuan wisata popular di Shanghai, China, 13 Agustus 2013. (Foto: Eugene Hoshiko/AP Photo)

Dalam upaya lain untuk meningkatkan pariwisata, China mengumumkan bulan lalu bahwa negara itu akan memberikan fasilitas bebas visa bagi warga negara Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol dan Malaysia yang berlaku hingga 15 hari.

Program uji coba selama satu tahun ini menandakan “keterbukaan tingkat tingg China terhadap dunia luar,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning pada taklimat harian.

Namun, upaya China untuk menarik wisatawan Amerika mungkin menghadapi hambatan lain. Penerbangan internasional antara kedua negara masih berada jauh di bawah tingkat pandemi, meski perlahan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Penerbangan antara AS dan China ditetapkan berdasarkan perjanjian bilateral.

Selama musim panas, di tengah memburuknya hubungan antara Beijing dan Washington, AS merekomendasikan warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke China dengan alasan risiko penahanan yang salah dan larangan untuk keluar dari negara itu.

“Pemerintah Republik Rakyat China (RRC) secara sewenang-wenang menegakkan hukum setempat, termasuk mengeluarkan larangan keluar terhadap warga negara AS dan negara lain, tanpa proses yang adil dan transparan berdasarkan hukum,” kata peringatan Pemerintah AS tersebut. [ft]

Sumber: www.voaindonesia.com