China Desak Iran dan Pakistan Tahan Diri Setelah Serangan Udara Mematikan

China, Rabu (17/1), mendesak Pakistan dan Iran untuk bersikap “menahan diri”, setelah Islamabad mengatakan Teheran melancarkan serangan udara terhadap wilayahnya yang menewaskan dua anak.

“Kami menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri, menghindari tindakan yang akan mengarah pada peningkatan ketegangan dan bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning dalam pengarahan rutin.

“Kami menganggap Iran dan Pakistan sebagai tetangga dekat dan negara-negara Islam yang besar,” katanya.

Layanan darurat membersihkan puing-puing rumah Peshraw Dizayi yang terkena serangan rudal Iran di Irbil, Irak, Selasa, 16 Januari 2024. (Foto: AP/Julia Zimmermann/Metrografi)

Baik Iran maupun Pakistan adalah mitra dekat Beijing dan anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai.

Pakistan mengecam serangan yang terjadi di dekat perbatasan kedua negara pada Selasa malam sebagai tindakan yang “sama sekali tidak dapat diterima”, dan mengatakan bahwa serangan tersebut tidak beralasan.

Iran belum memberikan komentar resmi, tetapi kantor berita Nour yang dikelola pemerintah mengatakan serangan itu menghancurkan markas besar kelompok jihad Jaish al-Adl (Tentara Keadilan) di Pakistan.

Dibentuk pada tahun 2012, Jaish al-Adl masuk daftar hitam Iran sebagai kelompok teroris dan telah melakukan beberapa serangan di wilayah Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan itu terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap “markas mata-mata” dan sasaran “teroris” di Suriah, dan di wilayah otonom Kurdistan Irak.

Serangan-serangan Iran memperparah krisis di Timur Tengah, dengan Israel melancarkan perang melawan Hamas di Gaza dan pemberontak Houthi pro-Palestina di Yaman menyerang kapal-kapal perdagangan di Laut Merah. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com