China dan Eritrea Harus Perkaya Kemitraan Strategis

PM China Li Qiang, Senin (15/5) mengatakan kepada Presiden Eritrea Isaias Afwerki yang sedang berkunjung bahwa negara mereka harus “memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan dan secara terus menerus memperkaya kemitraan strategis mereka.” Li mengatakan itu dalam pertemuan dengan Afwerki di Beijing.

Di Laut Merah, Eritrea secara geopolitik bisa jadi penting bagi China, dengan aksesnya ke Terusan Suez dan Eropa di utara dan Teluk Arab serta Samudra India di tenggara, sementara China berupaya memperkuat kehadirannya di kawasan Tanduk Afrika.

Eritrea juga berbagi perbatasan dengan Djibouti, di mana Tentara Pembebasan Rakyat China mendirikan markas militer pertamanya di luar negeri pada tahun 2017.

“Kontribusi Republik Rakyat China untuk mentransformasi tatanan dunia menjadi lebih dari sekadar hubungan yang adil dan wajar di antara rakyat dan bangsa jelas akan menimbulkan tantangan global dan mengubah sistem yang kita miliki,” kata Afwerki ke Li. Afwerki menduduki jabatannya itu sejak Eritrea meraih kemerdekaannya dari negara tetangga, Ethiopia pada tahun 1993.

Pada Maret lalu, kementerian luar negeri Eritrea menyebut sebuah putusan Departemen Luar Negeri AS bahwa militernya telah melakukan kejahatan perang dalam konflik dua tahun di kawasan Tigray, di bagian utara Ethiopia, “tidak berdasar dan memfitnah.”

“Benua Afrika yang terpinggirkan dan seluruh dunia akan membela keras dan mengharapkan kontribusi lebih banyak dari Republik Rakyat China,” kata Afwerki. [uh/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com