BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan 6%

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level enam persen. Keputusan ini merupakan hasil dari gelaran Rapat Dewan Gubernur BI periode Januari 2024.

BI juga mempertahankan tingkat suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing di di level 5,25 persen dan 6,75 persen. Bank sentral tersebut mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR)pada angka 6 persen, sejak bulan Oktober, sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Ketidakpastian pasar global telah mereda, kata Gubernur BI Perry Warjiyo, sehingga membantu stabilisasi nilai rupiah dan bahkan menunjukkan kecenderungan menguat seiring dengan berakhirnya siklus pengetatan yang dilakukan oleh negara-negara maju.

BI memperkirakan Federal Reserve AS atau bank sentral Amerika akan mulai melakukan pelonggaran pada semester kedua tahun ini, dengan total 75 basis poin.

Ketika ditanya kapan BI akan memulai pelonggaran, Perry mengatakan hal itu bergantung pada seberapa cepat rupiah dapat menguat, tingkat inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

“Kami akan tetap bersabar memantau kondisi domestik dan global,” kata Perry.
Rupiah tidak berubah setelah pengumuman untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil dan diperdagangkan sekitar 15.640 per dolar pada hari Rabu, turun 0,34 persen dari hari sebelumnya.

Gubernur Bank Sentral Indonesia Perry Warjiyo berbicara saat konferensi pers di Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta, 17 Januari 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)

BI menargetkan inflasi pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen pada tahun 2024, di bawah target tahun 2023 sebesar dua hingga empat persen.

Kegiatan perekonomian Indonesia melambat tahun lalu di tengah penurunan ekspor dan melemahnya belanja rumah tangga. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal ketiga berada pada titik terlemahnya dalam dua tahun.

BI mempertahankan perkiraannya bahwa pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini akan meningkat pada tahun 2024 menjadi berkisar antara 4,7 persen hingga 5,5 persen, dari perkiraan tahun 2023 sebesar 4,5 persen hingga 5,3 persen, yang disebabkan oleh peningkatan belanja untuk pemilu dan karena pemerintah saat ini bergegas menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur.

Dengan inflasi yang tetap berada dalam target, sebagian besar ekonom memperkirakan langkah BI selanjutnya adalah melakukan pemotongan, meskipun ada yang tidak setuju mengenai waktunya, yang mungkin bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank Danamon memperkirakan pemotongan BI sebesar 50 basis poin pada tahun ini.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan BI telah mencapai tingkat suku bunga akhir, namun “kelonggaran yang diberikan BI untuk menurunkan suku bunga tahun ini mungkin tidak sesuai dengan besarnya penyesuaian yang dilakukan bank sentral Amerika, mengingat tren defisit transaksi berjalan yang diperkirakan akan semakin melebar.” [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com