Bertekad Tanggapi Serangan di Yordania, Gedung Putih Katakan AS Tidak Ingin Berperang dengan Iran

WASHINGTON – Gedung Putih menyatakan tidak ingin berperang dengan Iran, di tengah-tengah tekad Presiden Joe Biden untuk menanggapi serangan drone yang menewaskan tiga tentara AS di Yordania. Washington menuduh serangan itu dilakukan milisi dukungan Iran. Kongres menekan Gedung Putih agar melakukan serangan balik, yang kemungkinan besar akan memperuncing dan memperluas konflik yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober lalu terhadap warga Israel.

Gedung Putih berada di bawah tekanan untuk bereaksi setelah serangan drone pada hari Minggu (28/1) yang menewaskan tiga tentara AS di Yordania. Washington menuduh bahwa serangan itu dilakukan oleh milisi dukungan Iran yang beroperasi di dekat Suriah dan Irak.

Pada hari Senin, para pejabat AS menyatakan yakin bahwa Iran berada di balik serangan itu tetapi tidak memberikan rinciannya. Mereka juga tidak membeberkan langkah berikutnya.

John Kirby, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, berbicara mengenai pernyataan Presiden Biden sehari sebelumnya. Ia mengatakan, “Sebagaimana yang ia katakan kemarin, kami akan merespons. Kami akan melakukannya sesuai dengan jadwal dan waktu kami, dan kami akan melakukannya dengan cara yang dipilih presiden, sebagai panglima tertinggi. Kami juga akan melakukannya dengan sadar sepenuhnya mengenai fakta bahwa kelompok-kelompok ini, yang didukung Teheran, telah merenggut nyawa tentara Amerika.”

Namun, satu hal yang jelas, kata Kirby, “Kami tidak ingin berperang dengan Iran. Kami tidak menginginkan konflik dengan rezim dengan cara militer.”

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, D.C., 29 Januari 2024. (AP/Andrew Harnik)

Para pejabat Iran, Senin (29/1) membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani mengemukakan,”Kami bahkan tidak menginginkan ketegangan dengan Amerika, di dalam maupun di luar kawasan. Republik Islam Iran sangat percaya pada solusi politik bagi perselisihan internasional dan regional.”

Sementara itu Sekjen NATO Jens Stoltenberg, Senin (29/1)di Washington juga menyatakan keprihatinannya dan menuding Iran. Katanya, “Kami melihat Iran terus menggoyahkan stabilitas di kawasan. Iran juga memikul tanggung jawab karena mendukung teroris yang menyerang kapal-kapal di Laut Merah. Perilaku Teheran mengingatkan kita mengenai seperti apa dunia tanpa aturan: tak bisa diprediksi dan berbahaya, dunia di mana keamanan kita menjadi lebih mahal.”

Juga jelas bahwa serangan ini merupakan bagian dari dampak operasi militer Israel yang masih berlangsung di Gaza setelah kelompok militan Hamas melakukan serangan mengejutkan terhadap warga sipil pada 7 Oktober. Ada satu hal lagi yang juga jelas, kata para analis.

Satu di antara para analis itu adalah Bernard Hudson, mantan direktur kontraterorisme Badan Intelijen Pusat AS (CIA), yang mengatakan, “Jelasnya, strategi AS, jika memang ada, yang dimulai tiga bulan silam untuk tidak membiarkan ketegangan regional meruncing – adalah strategi yang telah gagal.”

Dan dari ibu kota Yordania, jauh dari serangan drone itu, para warga dan analis mengatakan mereka merasa ini merupakan tahap baru dalam konflik di kawasan tersebut.

Analis politik Amer Sabaileh mengatakan, “Serangan ini sesungguhnya mewakili dimensi baru konflik. Menargetkan tentara Amerika di dalam wilayah Yordania atau di perbatasan Yordania menunjukkan bahwa penargetan ini meluas dari Suriah ke Irak dan sekarang ke Yordania.”

Bagaimana selanjutnya?

Kata Presiden Biden,“Kita kehilangan tiga jiwa pemberani dalam serangan terhadap salah satu markas kita. Saya ingin kita mengheningkan cipta untuk ketiga tentara yang gugur. … Dan kami akan merespons. Tuhan memberkati kalian semua.” [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com