Belanja Musim Libur di AS Meningkat di Tengah Kekhawatiran Finansial

Penjualan liburan meningkat tahun ini dan pengeluaran tetap kuat selama musim belanja kali ini, bahkan ketika warga AS bergulat dengan harga-harga yang lebih tinggi di beberapa daerah dan munculnya sejumlah kekhawatiran finansial yang lain. Demikian petikan pernyataan Mastercard SpendingPulse, yang melacak semua jenis pembayaran termasuk uang tunai dan kartu debit.

Penjualan pada musim liburan dari awal November hingga Malam Natal naik sebesar 3,1%. Dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 7,6%, penjualan tahun ini tergolong masih lambat, tetapi sesuai dengan fenomena yang biasa terjadi selama musim liburan.

“Pada musim liburan kali ini, konsumen datang dan berbelanja dengan cara yang disengaja,” ujar Michelle Meyer, Kepala Ekonom, Mastercard Economics Institute. “Latar belakang ekonomi tetap mendukung dengan penciptaan lapangan kerja yang sehat dan meredanya tekanan inflasi, memberdayakan konsumen untuk mencari barang dan pengalaman yang paling mereka hargai.”

Menurut standar yang ada, jumlah orang yang mencari tunjangan pengangguran tetap sangat rendah, sementara para pengusaha masih kesulitan memenuhi jumlah pekerja yang cukup.

Namun pertumbuhan penjualan sedikit lebih rendah dari kenaikan 3,7% yang diproyeksikan oleh Mastercard SpendingPulse pada bulan September lalu. Data yang dirilis pada hari Selasa (26/12) itu tidak mencakup industri otomotif dan tidak disesuaikan dengan inflasi.

Penjualan pakaian naik 2,4%, meskipun penjualan perhiasan turun 2% dan barang elektronik turun sekitar 0,4%. Penjualan online melonjak 6,3% dari tahun lalu dan belanja secara langsung naik 2,2%.

Pengeluaran konsumen topang ekonomi AS

Pengeluaran konsumen menyumbang hampir 70% dari aktivitas ekonomi Amerika Serikat, dan para ekonom dengan hati-hati memantau bagaimana orang-orang membelanjakan uangnya – terutama selama musim liburan – untuk mengukur kondisi mereka secara finansial.

Sebelumnya terjadi kekhawatiran yang meningkat terkait kesediaan warga AS untuk berbelanja karena kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari, sementara nilai tabungan telah turun dan tunggakan kartu kredit semakin tinggi.

Melihat kondisi tersebut, para peritel memberikan diskon untuk barang-barang liburan lebih awal, yaitu pada bulan Oktober, dibandingkan dengan tahun lalu. Mereka juga mengambil pendekatan yang hati-hati mengenai berapa banyak persediaan yang harus dipesan setelah fenomena terlalu penuhnya gudang-gudang tahun lalu.

Laporan terbaru yang dikeluarkan pada Jumat (22/12) lalu menunjukkan bahwa harga-harga menurun, meskipun harga di restoran, pusat penjualan mobil, dan untuk hal-hal seperti sewa rumah masih tetap tinggi. Tetapi secara tak terduga warga AS justru meningkatkan pengeluaran mereka dari bulan Oktober hingga November ketika musim liburan dimulai.

Gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana warga AS membelanjakan uang mereka akan muncul kembali bulan depan ketika National Retail Federation, kelompok perdagangan ritel terbesar di Amerika Serikar, merilis statistik gabungan selama dua bulan, berdasarkan angka-angka penjualan November-Desember dari Departemen Perdagangan AS.

Kelompok perdagangan itu berharap tingkat penjualan saat musim libur ini naik dari 3% menjadi 4%. Proyeksi angka tersebut memang lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai 5,4%. Tetapi angka proyeksi itu lebih konsisten dengan jenis pengeluaran liburan yang naik 3,6% antara tahun 2010-2019, tepat sebelum pandemi membuyarkan angka itu.

Para analis industri akan mengkaji kinerja keuangan kuartal keempat dari para peritel besar, saat mereka merilis data tersebut di bulan Februari.

Kekhawatiran besar kini berkutat pada apakah pembeli akan sangat menahan diri setelah menerima tagihan di bulan Januari.

Nikki Baird, Wakil Presiden Aptos, sebuah perusahaan teknologi ritel, mencatat para pelanggan yang telah terbebani oleh inflasi yang masih tinggi dan suku bunga yang tinggi, mungkin akan lebih menahan diri lagi karena dimulainya kembali pembayaran utang mahasiswa pada 1 Oktober nanti.

“Saya khawatir dengan bulan Januari,” katanya. “Saya bisa melihat sedikit kegembiraan terakhir.” [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com