AS Desak Inggris untuk ‘Kaji Ulang’ Kemampuan Militernya

Wartawan VOA Henry Ridgwell melaporkan dari London bahwa komentar pejabat Amerika menggemakan kekhawatiran para komandan militer senior di Inggris.

Pasukan Inggris terlibat Operation Prosperity Guardian atau Operasi Penjaga Kemakmuran – pasukan multinasional yang menarget pemberontak Houthi di Yaman untuk melindungi pelayaran komersial di Laut Merah. Sekitar 20 ribu tentara Inggris juga dijadwalkan terlibat ‘Latihan Pembela Tangguh 2024’ yang merupakan latihan terbesar NATO sejak Perang Dingin.

Dalam pidatonya bulan lalu, Menteri Pertahanan Inggris Grant Shapps menyoroti keterlibatan Inggris tersebut.

“Armada kapal induk kami akan dikerahkan dengan kekuatan penuh, dengan dipimpin kapal andalan kami yang luar biasa HMS Queen Elizabeth. Dan akan terbang dari deknya adalah jet-jet F-35 Lightning generasi kelima,” ujarnya.

Tetapi para kritikus berpendapat bahwa di balik itu, angkatan bersenjata Inggris kekurangan dana, kekurangan perlengkapan – dan menghadapi krisis perekrutan.

Dalam kunjungannya ke London bulan lalu, Menteri Angkatan Laut Amerika Carlos Del Toro mengatakan Inggris seharusnya mengkaji ulang angkatan bersenjatanya mengingat ancaman dari Rusia dan China serta konflik di Timur Tengah. Ia mendesak sekutu Eropa lainnya agar melakukan hal yang sama.

Sementara itu, Panglima Angkatan Bersenjata Inggris Jenderal Patrick Sanders yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, baru-baru ini memperingatkan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan untuk melengkapi dan memodernisasi angkatan bersenjata negara itu. Angkatan Darat Inggris mempunyai sekitar 73 ribu tentara – setengah dari jumlah tentara 30 tahun yang lalu.

Ben Barry, cendekiawan senior dalam bidang Perang Darat di Institut Internasional untuk Studi Strategis mengatakan, “Jumlah cukup penting. Misalnya, satu tank atau satu fregat atau satu jet F-35 tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Dapat juga dikatakan bahwa angkatan bersenjata Inggris memiliki beragam kemampuan, yang menurut saya disambut baik oleh Amerika, tetapi banyak dari angkatan itu yang memiliki kemampuan yang sangat kecil. Misalnya tentara Inggris hanya bisa memproduksi satu divisi. Tentara Prancis bisa menghasilkan dua, tentara Jerman bisa menghasilkan tiga.”

Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Inggris semuanya tidak mencapai target perekrutan. Dua fregat angkatan laut Inggris akan dinonaktifkan tahun ini karena kurangnya awak yang mampu mengoperasikannya. Akibatnya, jumlah kapal fregat Inggris kini hanya tinggal sembilan, menurut laporan London Daily Telegraph.

Pemerintah Inggris tidak mengomentari laporan tersebut tetapi menyoroti bahwa mereka telah memesan delapan fregat baru, meskipun fregat-fregat itu baru akan beroperasi setidaknya pada akhir dekade ini. Data pemerintah menunjukkan adanya kekurangan amunisi dan suku cadang di dalam angkatan bersenjata.

Sekali lagi, analis Ben Barry menjelaskan, “Apa yang kita lihat dalam beberapa tahun ini adalah menurunnya kekuatan angkatan bersenjata Eropa. Ini ditunjukkan secara terbuka dengan adanya kesulitan untuk memasok peralatan – senjata dan amunisi – yang cukup untuk Ukraina.”

Pemerintah Inggris telah berjanji akan membelanjakan 2,5 persen PDB untuk pertahanan pada 2030. Negara itu juga menyatakan berkomitmen akan membelanjakan lebih banyak, ‘kalau kondisi memungkinkan’. [ka/em]

Sumber: www.voaindonesia.com