Anggota “Proud Boys” Divonis 6 Tahun Penjara terkait Serangan Gedung Capitol

Seorang laki-laki yang menyerbu gedung Kongres Amerika bersama sejumlah anggota kelompok ekstremis “Proud Boys” pada hari Rabu (24/1) dijatuhi hukuman enam tahun penjara setelah ia mencaci maki dan menghina hakim yang menghukumnya.

Marc Bru berulang kali menginterupsi Hakim Ketua James Boasberg sebelum menjatuhkan vonis, dengan menyebutnya sebagai “badut” dan “penipu” yang memimpin “pengadilan kanguru”. Hakim memperingatkan Bru bahwa ia dapat dikeluarkan dari ruang sidang jika ia terus mengganggu jalannya persidangan.

“Anda bisa memberi saya waktu 100 tahun dan saya akan mengulanginya lagi,” kata Bru, yang berbicara dengan tangan dan kaki diborgol.

“Sikap itu merefleksikan definisi ‘tidak ada penyesalan’ dalam pedoman saya,” kata hakim.

Jaksa: Bru Tak Pernah Menyesal

Jaksa penuntut menggambarkan Bru sebagai salah satu perusuh yang paling tidak menyesal yang menyerang Capitol pada 6 Januari 2021. Mereka mengatakan Bru merencanakan pemberontakan bersenjata – sebagai serangan “6 Januari 2.0” – untuk mengambil alih pemerintahan di Portland, Oregon, beberapa minggu setelah kerusuhan yang menelan korban jiwa di Washington, D.C.

“Dia ingin mengulangi peristiwa 6 Januari, hanya saja kali ini dia menyiratkan akan melakukannya dengan lebih kejam,” tulis jaksa penuntut dalam pengajuan pengadilan menjelang vonis.

Bru telah mewakili dirinya sendiri, sementara seorang pengacara siap siaga di dekatnya. Dia telah melontarkan retorika anti-pemerintah yang tampaknya terinspirasi oleh gerakan warga berdaulat. Pada awal persidangan, Bru menuntut hakim dan jaksa penuntut untuk menyerahkan catatan keuangan mereka selama lima tahun.

Hakim memberinya waktu istirahat selama 10 menit untuk berunding dengan pengacaranya sebelum sidang dilanjutkan dengan lebih banyak interupsi. “Saya tidak menerima semua syarat-syarat yang Anda sampaikan,” ujar Bru. “Anda badut, bukan hakim!”

Jaksa telah memperingatkan pengadilan bahwa Bru berniat untuk mengganggu jalannya persidangan. Ia menyerukan acara peringatan di luar penjara di mana ia dan beberapa perusuh lainnya ditahan. Ia mengatakan kepada para pendukungnya, yang kini menjadi terdakwa dan ditahan, bahwa ia akan “mencoba untuk menampilkan pertunjukan yang bagus” saat vonisnya dibacakan hakim.

Boasberg memvonis Bru atas tujuh dakwaan, termasuk dua tindak pidana, setelah mendengarkan kesaksian persidangan tanpa juri pada bulan Oktober.

Bru Diketahui Sudah Teredikalisasi Sejak Lama

Jaksa penuntut merekomendasikan hukuman tujuh tahun dan tiga bulan penjara untuk Bru, yang merupakan warga negara bagian Washington. “Bru tampaknya telah membayangkan dan merencanakan pemberontakan bersenjata yang sesungguhnya, dan dari komentar-komentarnya setelah dihukum, dia tampaknya semakin teradikalisasi dan marah sejak saat itu,” tulis mereka.

Bru melarikan diri sebelum persidangan, melewatkan dua kali sidang pengadilan dan “lewat Twitter ia menantang pemerintah untuk menjemputnya jika menginginkannya.” “Kira-kira sebulan kemudian, ia datang,” jaksa menambahkan.

Bru mewakili dirinya sendiri di persidangan, tetapi tidak mengajukan pembelaan. Sebaliknya, dia berulang kali menolak untuk “menyetujui” persidangan itu, dan “tidak menunjukkan apa pun kecuali penghinaan terhadap pengadilan dan pemerintah,” tulis jaksa.

Bru terbang dari Portland, Oregon ke Washington sehari sebelum rapat umum “Stop the Steal” yang diadakan oleh Presiden Donald Trump di dekat Gedung Putih. Sebelum pidato Trump, ia bergabung dengan puluhan “Proud Boys” lainnya dalam pawai menuju Gedung Kongres dan menjadi salah satu perusuh pertama yang menerobos masuk ke area terlarang di dekat Peace Circle.

Bru mengambil sebuah barikade dan mendorongnya ke arah petugas polisi. Dia kemudian bergabung dengan para perusuh lainnya di dalam Capitol dan memasuki galeri Senat, di mana dia menunjukkan gerakan tangan yang diasosiasikan dengan “Proud Boys” saat dia berpose untuk foto selfie. Dia menghabiskan waktu sekitar 13 menit di dalam gedung itu.

Berencana Ulangi Serangan Serupa di Portland

Beberapa minggu setelah kerusuhan, Bru bertukar pesan teks dengan seorang teman untuk membeli masker gas dalam jumlah besar. Dia juga mengirim pesan kepada seorang anggota “Proud Boys” dan mengindikasikan bahwa dia ingin “mengulangi kekerasan dan pelanggaran hukum seperti yang terjadi pada tanggal 6 Januari, di Portland, untuk mengambil alih pemerintahan setempat,” kata jaksa.

“Faktanya, pesan-pesan teks tersebut menunjukkan bahwa hal utama yang diambil Bru dari peristiwa 6 Januari adalah bahwa peristiwa tersebut tidak cukup kejam atau tidak cukup didedikasikan untuk menggulingkan pemerintah,” tulis jaksa. “Dengan kata lain, setelah tanggal 6 Januari, Bru merencanakan pemberontakan bersenjata, bukannya merasa menyesal.”

FBI awalnya menangkap Bru pada Maret 2021 di Vancouver, Washington. Setelah dibebaskan dari praperadilan, Bru didakwa dengan pelanggaran terkait mengemudi dalam keadaan mabuk secara terpisah di Idaho dan Montana.

Pada bulan Juli, Bru secara diam-diam tinggal di Montana ketika seorang pengemudi yang sedang mabuk menabrak mobilnya. Petugas polisi yang merespons tabrakan tersebut menangkap Bru dengan surat perintah yang berasal dari kegagalannya untuk hadir di pengadilan sebelum persidangan. Dia “terus menyebarkan disinformasi” dari penjara sejak ditangkap kembali dan diadili, kata jaksa. “Jika ada, dia tampaknya semakin menantang dan teradikalisasi,” tulis mereka.

Menurut data yang dikumpulkan Associated Press, lebih dari 1.200 orang telah didakwa melakukan kejahatan terkait kerusuhan di Capitol. Sekitar 900 orang telah mengaku bersalah atau divonis bersalah setelah persidangan. Lebih dari 750 telah dijatuhi hukuman, di mana sekitar dua pertiga menerima hukuman penjara. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com