Aktivis Demokrasi Hong Kong Minta Suaka di Inggris

Aktivis demokrasi Hong Kong Tony Chung, yang pernah menyerukan kemerdekaan kota itu dan menjadi orang termuda yang dipenjarakan berdasarkan UU keamanan nasionalnya, Jumat (29/12) mengatakan ia akan meminta suaka di Inggris.

Beijing memberlakukan UU Keamanan Nasional di Hong Kong pada 2020 setelah protes prodemokrasi besar-besaran dan kerap disertai kekerasan selama berbulan-bulan di bekas koloni Inggris itu.

Pada 2021, Chung, ketika itu berusia 20, menjadi orang termuda yang dipenjarakan berdasarkan UU keamanan setelah ia mengaku bersalah atas tuduhan “pemisahan” dan dijatuhi hukuman penjara 3,5 tahun.

Chung mengatakan ia “telah tiba dengan selamat di Inggris dan secara resmi telah mengajukan suaka politik pada saat kedatangan,” menurut pernyataan yang diposting di Facebook pada Jumat pagi tetapi bertanggal 27 Desember.

Ia mengatakan telah diawasi dengan cermat oleh polisi keamanan nasional Hong Kong meskipun hukuman penjaranya telah berakhir pada Juni lalu dan ia juga dilarang bekerja.

Mantan ketua kelompok pro-kemerdekaan, Tony Chung Hon-lam tiba di Pengadilan West Kowloon Magistrates dengan mobil polisi setelah dia ditangkap berdasarkan undang-undang keamanan nasional, di Hong Kong, China, 29 Oktober 2020. (Foto: REUTERS /Tyrone Siu)

The Washington Post memberitakan ia dibebaskan dini karena berkelakuan baik.

Pihak berwenang juga melarangnya meminta bantuan hukum dengan menyebut pasal kerahasiaan di bawah UU keamanan nasional, kata Chung.

Chung mengatakan mendapat izin meninggalkan Hong Kong dengan mengatakan ia ingin berlibur ke Okinawa, Jepang, dan meminta bantuan begitu ia berada di luar wilayah China.

Seraya menyebut dirinya sebagai seorang “eksil Hong Kong,” Chung mengatakan mustahil baginya untuk kembali ke Hong Kong dalam waktu dekat.

“Saya percaya bahwa hanya dengan upaya kolektif rakyat Hong Kong maka Hong Kong dapat kembali menjadi tempat yang kita banggakan,” tulisnya. “Saya percaya bahwa selama rakyat Hong Kong tidak pernah menyerah, benih-benih kebebasan dan demokrasi akan bersemi kembali.”

AFP telah menghubungi polisi untuk meminta komentar.

Chung sebelumnya adalah pendiri Student Localism, sebuah kelompok kecil yang didirikan lima tahun silam sewaktu ia menjadi seorang pelajar sekolah menengah untuk mengadvokasikan kemerdekaan Hong Kong dari China.

Pemisahan diri dari China ketika itu merupakan pandangan marginal di Hong Kong meskipun seruan bagi pemerintahan sendiri menjadi semakin vocal selama protes 2019.

Pada tahun 2020, Chung ditangkap polisi berpakaian preman di sebuah kedai kopi di seberang Konsulat AS, di mana ia dituduh berencana meminta suaka. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com