64 WNI  Masih Tinggal di Sudan 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Jumat (5/5), menjelaskan hingga kini masih terdapat 64 warga Indonesia yang tinggal di Sudan, termasuk 13 staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum, Ibu Kota Sudan.

“Sebagian besar dari 64 dikurangi dari KBRI adalah warga negara yang memang memilih untuk tinggal karena alasan keluarga. Ada satu (warga Indonesia) yang masih dirawat di rumah sakit di Port Sudan dan kita terus memantau, mendampingi kondisi beliau selama perawatan di Port Sudan,” kata Retno.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberi keterangan pers di Jakarta, Jumat, 5 Mei 2023. (Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters)

Retno mengatakan pemerintah telah menerbangkan 955 warga Indonesia keluar dari Sudan dengan perincian 931 orang dievakuasi melalui Jeddah, 15 orang lewat Mesir, enam orang via Uni Emirat Arab, dan tiga orang melalui Ethiopia.

Dari jumlah itu, 934 warga Indonesia sudah dipulangkan ke Tanah Air melalui Jeddah, sedangkan 21 WNI lainnya masih tersebar di Jeddah, Mesir, Uni Emirat Arab dan Ethiopia.

Judha Nugraha, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri mengatakan sampai saat ini ada dua staf lokal yang menjaga KBRI Khartoum. Sedangkan 13 staf KBRI yang merupakan warga Indonesia menjalankan tugasnya dari Kota Port Sudan.

“KBRI Khartoum dalam konteks organisasi tetap beroperasi di dalam Sudan untuk memastikan semua kepentingan kita dapat terlaksana,” ujar Judha.

Dia menjelaskan satu warga Indonesia yang dirawat di Port Sudan masih menggunakan alat bantu pernapasan, sehingga diputuskan untuk tidak dipindahkan sampai kondisinya membaik untuk dievakuasi ke Jeddah.

Judha mengatakan dua warga Indonesia lainnya yang mengalami patah tulang juga sedang menjalani perawatan di Jeddah. Ketiganya merupakan korban kecelakaan salah satu bus yang mengangkut warga Indonesia dalam proses evakuasi dari Khartoum ke Port Sudan.

Boleh kembali ke Sudan

Duta Besar Sudan untuk Indonesia Yasir Muhammad Ali mengatakan pemerintahannya akan mengizinkan mahasiswa Indonesia kembali melanjutkan kuliahnya di Sudan jika negara itu sudah damai dan stabil.

Insyaallah, kalau semuanya sudah aman di Sudan, mereka bisa kembali ke Sudan untuk melanjutkan pendidikan mereka. Kami memiliki banyak mahasiswa dari Indonesia belajar untuk tingkat sarjana dan doktor di Sudan,” tutur Yasir.

Sejumlah warga Sudan menunggu di Pelabuhan Sudan untuk menaiki kapal militer Arab Saudi untuk dievakuasi ke Jeddah, di tengah memburuknya konflik antar kelompok militer di Sudan, 3 Mei 2023. (Foto: Amr Nabil/AP Photo)

Sejumlah warga Sudan menunggu di Pelabuhan Sudan untuk menaiki kapal militer Arab Saudi untuk dievakuasi ke Jeddah, di tengah memburuknya konflik antar kelompok militer di Sudan, 3 Mei 2023. (Foto: Amr Nabil/AP Photo)

Yasir mencontohkan salah satunya adalah penceramah kondang, Ustaz Abdul Somad, yang merupakan lulusan program doktor dari Universitas Islam Omdurman di Sudan.

Dia menambahkan sudah sekitar 3.000 warga Indonesia pernah kuliah di Sudan. Kehadiran mereka kian mempererat hubungan antara kedua negara.

Perang antara pasukan Angkatan Bersenjata Sudan dipimpin Jenderal Abdil Fattah al-Burhan dengan paramiliter RSF (Pasukan Dukungan Cepat) yang dikomandoi Jenderal Muhammad Hamdan Dagalu meletup sejak 15 April lalu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) pertempuran terjadi di Khartoum dan kota-kota lain di Sudan telah menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai paling tidak 3.500 lainnya. [fw/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com